BudayaCerita
Trending

Bahasa Nyai Nikita

esai budaya Eko Tunas

Nikita Mirzani pastinya bukan Sapardi Djoko Damono atau Afrizal Malna. Bukan penyair berbahasa lebay/arogan meninggi di mata rakyat. Dia, Nikita atau dipanggil Niki, lebih menggunakan bahasa rakyat, atau bahasa yang mudah dipahami masyarakat umum.

Bahkan, ada yang beranggapan, saat Niki menyebut kata habib, bagi pengertiannya habib sama dengan tabib. Perhatikan kalimat Nikita: nama habib itu tukang jual obat (tabib).

Sebagai artis pun, Niki bukan model artis yang doyan menumpuk kekayaan dan pamer-mengumbar kemewahan. Dikabarkan bahkan dia rajin transfer lembaga pendidikan atau pesantren tertentu dalam jumlah ratusan juta hingga milyaran rupiah. Juga dia cukup aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dalam berpakaian pun dia tidak menggunakan busana branded berharga mahal melangit, tapi apa adanya, sehingga kerap tampak/terkesan terbuka. Pakaian keseharian yang acap dipandang sexy, padahal lihatlah raut ekspresi wajahnya yang polos mbocahi.

Tetap anggun dengan bahasa rakyat

Dengan bahasanya yang lugas tanpa tedeng aling-aling dan emosi ekspresinya yang kerakyat-jelataan dari kubu Islam praktik, itulah gambaran pas tokoh proletar-egaliter yang kini mendapat sebutan: Nyai.

Bisa dikatakan Nyai adalah figur yang mewakili suara rakyat sebagai presentasi seorang nasionalis garis bawah. Ya, suara Nyai adalah suara anak bangsa atau warga negara dari suatu sudut wilayah (bukan pejabat atau intelektual) yang merasa sakit manakala bangsa dan negaranya tersakiti oleh ulah pihak nir-moral non-ahlak, lalu menyuarakan kesakitannya. Sekali lagi, tidak dengan bahasa politis-akademis, apalagi puitis.

Dari sisi bahasa ini, Nikita dari sudut para moralis (politisi, akademis, penyair) dianggap kontroversial. Juga dari perilaku yang spontan apa adanya, Nyai dianggap di luar norma atau tata susila (-kaum feodal-kolonial). Tak aneh dia kerap berhadapan dengan kasus di sekitar tata-nilai “darah biru” plus hukum Belanda, bahkan beberapa kali tersandung perkara dan terpaksa masuk hotel prodeo.

Berbahasa tanpa hipokritisme

Keberanian Nikita dalam kontravitanya terhadap musuhnya yang dia anggap musuh bangsa dan negara, dibilang karena sudah putus urat malu dan takutnya. Sekali lagi, ya itu anggapan dari sudut para “penyair” pemalu lebay dan penakut tapi arogan.

Bagi Nikita sebagai representasi rakyat, sebagaimana pada masa penjajahan, apa yang ditakuti rakyat saat harus berhadapan dengan mesiu kolonial Belanda, meski pun senjata rakyat hanya bambu. Begitulah, yang sebagaimana terjadi hari-hari ini, Nyai tampil seorang diri, di saat para moralis berasyik dalam bahasa politis-akademis-puitis.

Tampillah sang Nyai dengan bahasa “bambunya”. Di saat penggunaan bahasa “mesiu” begitu tak terkendali. Maling disebut koruptor, batuk pileg dibilang Covid (dimiripkan aid), UU kesejahteraan rakyat dikatakan meli guslow.Si Nyai sederhana apa adanya saja: nama habib itu kang obat (tabib).

Siapa tahu kalimat biasa yang tidak ada apa-apanya itu meruncingkan bambu dan menusuk diri si kolonial feodal. Bukankah itu politis lebih politis, ambigu lebih ambigu.Andai peristiwa hari ini serupa drama, maka Nyai Nikita telah bermain sukses sebagai tokoh pemeran utama wonder women, lainnya para moralis (akademis, politisi, penyair) itu hanya figuranlah.

Bahkan, ada figuran selewatan yang hanya teriak-teriak di jalan: lonte! lonte!! lonte!!! [][][]

eko tunas : penulis, perupa, penyair, monologer, budayawan yang tinggal di Semarang

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close