Budayabukan beritaCeritacerpen
Trending

Menggugat Tuhan

Cerpen : Indriastuti Martarini

Ika baru saja  menyelimuti tubuhnya dan membenamkan wajahnya di bantal, ketika dia mendengar ketukan halus dari pintu bawah. Ika menyingkapkan kembali selimut dari tubuhnya, lalu menuju pintu, memutar anak kunci dan membukanya. Seraut wajah kusut menyeruak masuk.

“Gedubraaak…”, tubuh pria itu terhuyung lalu terjatuh menimpa meja pajangan pot bunga kesayangan Ika. Pot pecah berkeping-keping, bunga kesayangan patah dan tanahnya berhamburan mengenai kaki Ika.

Lelaki itu meracau tak jelas, kemudian mencoba bangkit dan ketika berhasil berdiri, ditendangnya meja pajangan itu. Ika bergeming. Dia sudah bosan dengan semua kejadian yang terus berulang ini. Dipandanginya laki-laki yang tak lain adalah ayahnya itu hingga masuk ke kamar. Ditutupnya kembali pintu itu. Setelah mencuci kaki, Ika ingin melanjutkan tidur.

Jam di dinding menunjukkan pukul 23.10 WIB. Sudah hampir setengah jam mata Ika tak dapat terpejam. Dia bangkit menuju meja rias dengan kaca besar di sana dan memandangi wajahnya di cermin.

“Aku sudah dewasa dan tidak jelek. Bahkan aku tergolong manis dengan rambut hitam panjang dan bergelombang. Bibirku seksi dan posturku tinggi semampai. Yaaa…aku gadis yang cantik”, begitulah Ika memuji diri sendiri.

Ika mengeluarkan semua alat kosmetiknya dari laci meja rias dan mencari baju terindah milik ibunya. Dia mulai membersihkan mukanya dengan milk cleanser dan air mawar, memakai alas bedak, memoles pipinya dengan bedak dan blush on, menghiasi matanya dengan eye liner, eye shadow dan bulu mata, membentuk alis serta terakhir memulas bibirnya dengan gincu merah membara.

Perlahan digantinya baju tidur dengan gaun broklat warna maroon dan pas di badan. Oooww…ada yang terlupa…dia benahi bagian dada agar terlihat berisi. Dengan sangat puas dipandanginya dirinya di cermin. Dia benar-benar menjelma menjadi wanita dewasa yang cantik dan menggoda.

Tiba-tiba ayahnya masuk kamar dan sangat murka ketika melihat Ika dalam keadaan seperti itu.

“Lepaskan baju itu dan hapus dandanan gila macam itu! Bikin malu keluarga saja kamu ini! Gara-gara kelakuanmu seperti ini maka ibumu mati…dasar anak durhaka, pergilah saja kalau kau tak mau dengar kata orang tua!”

Kali ini Eka tidak melawan ayahnya seperti biasanya. Maka Ika melepas baju itu dan menghapus riasan di wajahnya. Ayahnya pergi dari kamar dengan ngomel berkepanjangan.

Hari mulai pagi. Tak terasa Ika menangis menyesali semua yang terjadi pada dirinya. Gusti Yang Agung, apa sesungguhnya yang telah terjadi dalam diriku? Lalu Ika teringat kata-kata ibunya setiap kali ia menangis dengan perasaan yang sama.

“Tak ada tetesan air mata yang sia-sia, Ika. Jika hal itu membawamu pada sebuah kesadaran dan kau punya tekad yang kuat untuk melawan yang bukan takdirmu tetapi harus kau jalani. Jika rasa itu muncul terimalah dahulu, berdoalah agar diberi wening untuk mengambil tindakan yang benar menurut-Nya.” begitulah almarhum ibunya selalu menasehati.

Ika merasa tenang jika ibumya mengatakan hal itu, tetapi Ika diam-diam juga tahu bahwa ibunya memendam rasa sedih yang teramat dalam. Ika juga tidak tahu harus bagaimana, karena perasaan itu muncul begitu saja dan sangat kuat hingga dia tak bisa melawannya bahkan membuat dia merasa sebagai manusia yang utuh. Lelah dan mengantuk Ikapun  melanjutkan tidur.

Hari sudah siang ketika Ika terbangun karena rasa lapar. Dia ke dapur memasak lalu menyiapkan makanan di meja makan. Ika mencari ayahnya untuk diajak makan siang, tetapi seperti biasa dia tidak menjumpai ayahnya yang entah sudah pergi ke mana.

Kesal dengan semua itu Ika mengemasi semua barangnya dan berniat pergi dari rumah. Dia menulis surat pamit pada ayahnya dan meninggalkannya di meja makan lalu pergi dengan bekal uang tabungannya selama beberapa tahun.

Ika sampai di Maumere dan mengunjungi rumah temannya yang sudah dikenalnya lewat grup WhasApp. Gerry temannya itu sangat ramah menerima Ika.

“Aiii,,,senangnya eike akhirnya kanua sampai juga kasindaaaang. Yuuuk…masuk dan nanti eike tunjukkan kamarmu. Sudah lama lho eike nunggu kanua datang. Jadi eike sekarang punya saudara yang senasib.”

Merekapun tertawa-tawa akrab. Ika merasa beban hidupnya sementara hilang. Ada rasa lega karena dapat meninggalkan rumah yang menyiksa hatinya. Ya…kini Ika memilih menjalani hidup sebagai waria bersama Gerry temannya yang berubah nama jadi Gabby.

Hari-hari dia jalani penuh konflik batin. Kadang dia menggugat Tuhan. “Tuhan, kenapa sih saya Kau beri kelamin laki-laki, tetapi perasaan saya seperti perempuan, saya Kau beri fisik seperti laki-laki, tetapi saya dapat dan senang melakukan pekerjaan-pekerjaan perempuan’, demikian percakapan Ika dengan Tuhan.

Namun ada saat-saat Ika merasa harus mengalahkan dirinya sendiri untuk dapat menerima diri seperti adanya. “Sebelum aku bisa menerima orang lain, aku harus bisa menerima diriku sendiri terlebih dahulu”, begitu tekad Ika yang memiliki nama asli Hendrika.

Perjalanan hidup Ika ternyata tidak mudah. Dia harus mengalami proses hidup seperti waria lainnya yang mengamen, ditangkap satpol PP dikira nyebong, tak jarang dipukuli sesama teman karena diajak melakukan yang tak senonoh tetapi dia menolak, mengalami cemoohan dan perundungan, tetapi semua itu ditempuhnya dengan tabah, seteguh jiwa laki-lakinya sekuat jiwa perempuannya.

Setelah setahun lebih tinggal di Maumere dengan berbagai pengalaman hidup akhirnya Ika dan teman-temannya berhasil mendirikan salon yang cukup besar. Ika memiliki bakat sebagai pemimpin dan dia mendirikan sebuah organisasi untuk menolong dan membina kaum waria. Dalam perjalanannya organisasi yang diketuai Ika ini dikenal dan diterima oleh masyarakat.

Mereka dapat menjadi pembawa acara perkawinan atau hajatan keluarga, mengadakan kegiatan kesenian dan pembinaan kaum muda/anak-anak, menjadi pengurus dalam suatu penyuluhan tentang pola asuh keluarga, memberi penyuluhan tentang wabah penyakit dan tentang narkoba, juga kursus tatarias dan menggelar festival seni.

Ika dikenal sebagai waria yang ramah pada anak-anak dan akrab dengan ibu-ibu di kota kecil Maumere. Ibu-ibu dan anak-anak yang akrab dengan Ika memanggilnya Bunda. Saat usia Ika menginjak 30 tahun ada pemilihan anggota dewan. Ika ingin mencalonkan diri sebagai anggota dewan malalui jalur DPD.

Tanpa disangka dia berhasil mengalahkan empat calon lainnya yang semua laki-laki. Dukungan banyak datang dari ibu-ibu, kaum muda, kaum waria binaannya  dan banyak tokoh RT/RW.

Tiba saatnya pelantikan. Tetapi Eka bingung hendak mendatangkan pemuka agama yang mana untuk melantiknya. Karena sesungguhnya agama yang di KTP belum sunguh-sungguh diyakininya. Bukan karena agama itu jelek menurutnya, namun pengalaman hidupnya yang pahit sebagai waria semua agama pernah menolaknya datang. [][][]

Catatan :

Eike = saya

Kanua = kamu

Kasindaaaang = ke sini

Nyebong = penjaja seks

Indriastuti Martarini, Guru smp yang senang dan sedang belajar menulis serta menyukai bunga.

Ngaten
1
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close