bukan beritaSatire
Trending

Obrolan ‘Untold Story’ dengan Chairil Anwar

Inkonsistensi adalah satu-satunya sikap konsisten yang diambil pemerintah mengahadi pandemi covid nineteen. Mudik dilarang, pulang kampung diijinkan. Transportasi darat dibatasi, transportasi udara dibuka.

Saya ujug-ujug teringat Chairil Anwar. Saya membayangkan jika penyair itu ada, pasti suaranya akan jadi quote dan trending dimana-mana. Ingat ini, saya langsung mapan turu dengan tujuan segera bisa menemuinya.

Nggak sampai 5 menit, saya sudah melihat Chairil senyum-senyum di sudut teras saya sambil ngopi. Entah siapa yang menyuguhkannya. Langsung saja saya ngajak ngobrol.

Mas Chairil, sampeyan kan suka ngomong. Komentar dong soal pagebluk ini?

Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata. Kaulah sekarang yang berkata.

Lah, trus saya harus gimana? Terserah sampeyan saja mas.

Mari kita putuskan kini di sini. Jalan yang dulu tidak mungkin ditempuh lagi.

Ah, tapi kenapa ketika masyarakat sudah menurut dan ikut mengkampanyekan hestek di rumah aja, hestek jangan mudik, justru pemerintah memancing kerumunan di bandara?

Kau tahu cintaku, bahwa hidup sesungguhnya hanyalah menunda kekalahan.

Baik. Ini soal nasionalisme, bagaimana ketika para petugas medis seperti frustasi karena tak mendapat dukungan dan menyuarakan Indonesia Terserah?

Ini bangsa dijaga datu-datu, ini bangsa semua bilang โ€˜akuโ€™.

Lha kan jadinya mereka yang repot. Apa kita juga harus mengatakan Indonesia Terserah juga?

Kita terapit, cintaku. Yang terusir dari kumpulan yang terbuang.

Bangsa ini harus bagaimana mas?

Diam bergerak agar bisa mengisar setapak.

Saya kemudian mengingatkan bahwa Chairil Anwar adalah influencer bukan buzzer. Saya sampaikan harapan saya agar ia sudi memberikan pesan kepada bangsa yang menghabiskan waktu untuk bermain tiktok ini.

Saya juga menyebut banyaknya anak muda yang mendaku sebagai milenial dan menjadi staf khusus pemimpin di banyak tingkatan. Saya sadar bahwa pertanyaan dan pernyataan saya mengandung kecemburuan.

Apa yang saya ucapkan selalu membawa aura iri hati dan rasa frustasi. Iri prestasi mereka yang menyebut diri staf milenial itu.

Lalu apa pesan sampeyan sebagai Chairil Anwar yang ngetop itu untuk bangsa ini?

Tak usah kau bercerita. Muka ini penuh luka. Dan nanah yang meleleh dari luka, tetap kau usap sambil menuju. Olala, berkilo jalan ditempuh. Perahu kita pasti merapuh.

Maksudnya apa mas?

Kita jalani ini jalan karena dalam sunyi kita terjalin. Keridlaanmu menerima segala tiba.

Tapi nyatanya sekarang koruptor dapat potongan hukuman, mereka yang tak mengenakan masker dan mencoba waras membangun optimis malah ditangkap. Kalau tak dipenjara ya bayar denda. Ini bukankah seperti jaman Daendels?

Di masa revolusi ini, tuan hidup kembali.

Adakah jalan lain?

Dari Ave Maria ke jalan lain, ke Roma.

Tips bertahan hidup ketika semua warga saling curiga?

Kemah kudirikan ketika senjakala di pagi terbang entah ke mana.

Bagaimana dengan kampanye jaga tangga di Jateng?

Sia-sia dilindung, sia-sia dipupuk. Mengajari ikan berenang

Baiklah. Obrolan akan saya hentikan disini.

Jangan kita di sini berhenti. Kelasi mendapat dekapan di pelabuhan dan di negeri kelabu yang berhiba penduduknya bersinar lagi, dapat tujuan.

Lha trus mau ngapain?

Aku kira beginilah nanti jadinya: Kau kawin, beranak dan berbahagia, sedang aku mengembara serupa Ahasveros. Kita bangkit dengan kesedaran. Mencucuk menerawang hingga belulang. Segala menebal, segala mengental. Segala tak kukenal. Selamat tinggal! [][][]

edhie prayitno ige, penulis dan penyuka anggrek gratisan, asli muntilan dan tinggal di semarang

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More
Back to top button
Close