BudayaPuisi
Trending

Subyektivitas Terjemahan dalam Kur 267 Kasmaran Ayat Pujangga

Ada yang menarik dari sastra Tegal. Kota yang sudah melahirkan banyak penulis dan sastrawan yang akhirnya mewarnai (atau bahkan menguasai?) dunia sastra Indonesia ini melahirkan sastra bernama Kur 267.

Kur dalam bahasa Tegal berarti hanya. Ini merujuk pada aturan baku penulisan puisi ‘Kur’. Artinya, jika di belakang ada angka 267, puisi tersebut haruslah memenuhi pola ‘hanya 267’.

Secara fisik, puisi-puisi ini bisa disebut sebagai haiku-nya Tegalan. Ditulis hanya tiga larik saja dan harus memenuhi kaidah 2 (suku kata) di larik pertama, 6 (suku kata) di larik kedua, dan 7 (suku kata) di larik ketiga.

Ria Candra Dewi, seorang dosen Bahasa Indonesia di Politeknik Baja Dukuhwaru, Tegal mencoba memberi makna berbeda pada puisi atau haiku Tegalan ini.

Tak hanya menggunakan bahasa ngapak Tegal, namun juga memanfaatkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

Uniknya, penggunaan bahasa Inggris harus melibatkan Budi Patikto, guru bahasa Inggris di SMP Negeri 8 Kota Tegal. Maka terkumpullah sehimpun puisi yang kemudian dibukukan dan diberi tajuk ‘Kasmaran, Ayat Pujangga.’ Sebuah tajuk berat.

Melibatkan seorang penerjemah bukan tanpa resiko. Resiko terberat adalah munculnya subyektivitas penerjemah dalam mempersepsikan imajinasi Ria. Apapun itu, ini sebuah langkah yang perlu diapresiasi.

Ria Candra Dewi hadir sebagai perempuan, maka puisi-puisinya juga banyak berbicara tentang feminisme, eksistensi perempuan, dan problematika perempuan sehari-hari.

Lanang Setiawan dan Muarif Esage, dua aktivis sastra Tegalan ‘Kur’ ini menyebut bahwa karya Ria Candra Dewi melalui kesederhanaannya menampilkan imajinasi yang unik.

Ria Candra Dewi, Lahir di Tegal dan menempuh pendidikan di Universitas PGRI Semarang, jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close