BudayaPuisi
Trending

Merayakan Kegembiraan Penyair

Gairah seorang penyair adalah ketika ia mampu menulis puisi. Seburuk atau sesempurna apapun, ketika menuliskannya pasti diliputi kegairahan.

Baik buruk sebuah puisi, bukan pada diksi njlimet atau dalam tidaknya sebuah pesan. Baik buruk ukurannya adalah diri sendiri.

Sebuah karya, mungkin bagi seorang pengamat atau kritikus dianggap buruk. Tapi pada saat yang sama, ia menjadi sangat bermakna menjaga gairah sang penyair.

Melalui puisi, seorang penyair bisa bercerita apa saja yang ingin diceritakan. Ukurannya jelas, kepuasan si penyair itu sendiri bukan kepuasan si pembaca. Kepuasan si penyair itulah yang mampu menjaga gairah dan membuatnya percaya diri.

Dengan menulis, sama saja menemukan kegembiraan. Sel-sel kelabu di kepala menjadi aktif, menangkap pesan semesta.

Menyimak puisi-puisi Rhiky Pranata, seorang guru di Pekanbaru ini adalah menangkap aneka kelebatan segala sesuatu. Rhiky tentu bersyukur dianugerahi menangkap segala sesuatu meski hanya sekelebat dan menjadi sebuah atau berbuah-buah puisi.

Tapi yang jelas puisi ini lahir karena Rhiky adalah seorang penyair. Penyair yang tak melahirkan puisi, ia akan berhenti menjadi penyair. Sama seperti seorang suami yang tak cinta isteri dan anaknya.

Selamat menikmati!! Salam. [edhie prayitno ige]

Itu ada Anak Kecil

pohon pinang itu hari ini sedikitpun tak bergoyang,
Benalu yang melekat di dahan tua juga enggan berdansa,
ke mana angin?
Ada yang sempat berjumpa?

Itu ada anak kecil dengan layang-layang yang enggan terbang,
Peluh menumpuk di lehernya yang kelat,
Ini sudah tengah hari mendung, apakah angin masih tidur pulas?

Itu ada anak kecil ia mengambil sepeda,
Layang-layang itu ia sangkutkan di lehernya,
Memutar pedal dengan kesal,
Hendak ke mana ia pergi?

9-2-20

Bergelut Dalam Jiwa

Musuhku menunggavng ombak bono,
Membawa keris yang berhulu tajam hendak menikam,
Menyimpan benci tak berkesudahan,
Sampai sang fajar menjelma dan senja sirna masih tak hilang tetap lekang.

Bergelut dalam jiwa tercipta amarah,
senyap meluap bentak mengelombang kalap,
Bergelut dalam jiwa pupus akal budi,
Kecil semut tampak di kejauhan,
Besar gajah di hadapan hanya bayang-bayang.

Bercermin di riak ombak yang perlahan mengejar waktu,
Kan bertemu cacat diri,
Bersua lopak dan suak jiwa,
Perlahan tutupi dengan mengkaji diri.

Bergelut dalam jiwa,
Menimbang dan mengukur bathin,
Bergelut dalam jiwa,
Sehati raga dan rohani hingga bertemu ruas Manusiawi!

9-9-19

Singgasana

Ampunkan patik memetik kelopak bunga yang ditanam tahun silam,
Pendurhakaan ini tak dapat dielak,
Karna mekar dan harum menyebar ke pelosok rongga penciuman,
Patik siap menerima aniaya dan hukum pancung.

Darah bercucuran menitik di singgasana,
Sejarah membekas tinggal menunggu malapetaka,
Berita sampai kerakyat jelata siapa yang menanggung derita?
Dialah yang bertahta di singgasana.

Patik mati membawa cinta,
Tersiksa dunia karna bunga,
Pergi membawa kenang yang tak dapat diulang,
Singgasana tempat patik berpulang.

09-2-20

Rhiky Pranata adalah M. Rhiky Pranata, kelahiran pulau Bengkalis 5 Mei 1993, Alumnus Seni Teater – Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR).
Mengajar di SMA Negeri 7 Pekanbaru, berkesenian di Sanggar Teater Matan. Aktif di COMPETER Pekanbaru. IG: @mrhikypranata

Ngaten
1
Muach
1
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close