BudayaCeritaPuisi
Trending

Dongeng Baru Bernama Puisi

Fiksi terkini berkembang sangat pesat. Reproduksi karya mengalami titik kemudahan dan mendekati puncak keramaian. Media sosial menjadi ruang reproduksi yang sangat masif. Perbanyakan selebaran, poster-poster paperless hingga penerbitan buku-buku sastra secara indie menjadi pupuk.

Pun dengan puisi, ini adalah genre yang disukai para sastrawan muda. Konon menulis puisi sama sulitnya dengan menulis prosa. Maka akhirnya puisi pun menjadi sebuah dongeng.

Menulis puisi adalah sebuah dongeng baru. Seperti halnya dongeng lama, ia hadir untuk mengusung tema dan substansi cerita yang familiar, mudah ditebak. Namun penyampaiannya justru secara berbelit.

Seperti yang ditulis penyair D Iskandar asal Riau ini. Meski sudah menghasilkan dua novel dan sejumlah antologi puisi, namun jika kita cermati, pesan yang hendak disampaikan begitu mudah ditebak.

Maka, puisi ini sangat sah dan menjadi menarik, justru ketika mampu menjadi dongeng baru.

Selamat menikmati. [edhie prayitno ige]

Syair Kerinduan

Kisah sedih dihari Minggu jatuh bening air mata

Kau adalah ibu kenangan, kemana aku pergi bayang dirimu lekat di kepala
Telah jauh aku mengembara melagu syair kerinduan, pada ibu

Teramat indah untuk dikenang, tak mudah menutup mata
Melintas wajahmu berkepak burung menuju surga

Aku kian merindu, namun hati dan jiwa berkelana

Ibu telah meniduri tanah
Kukirim bunga doadoa bersama desiran angin berhembus
Cuma berlagu syair rindu untuk ibu

Pekanbaru, 2020

Corona vs Kuali Gosong

Emak duduk di kursi kayu
sambil menonton TV
berita mengatakan Corona bermula
dari pasar Wuhan negeri orang
bermata sipit dan kulit putih

Anyirnya ikan tak tercium lagi
diganti dengan amis daging hewan liar
yang membuat orang terkapar
dunia menjadi gempar

Gaung anak serigala dibunuh paksa.
Merak kehilangan indah bulunya
Berang-berang tak sempat membuat
rumah di sungai.
Ular berdesis kehilangan bisa.

Hati emak cemas
takut carona pindah ke pasar
tomohan di Manado.
Kata emak keduanya mirip
kalau disanding
bak pinang dibelah dua

Asyiknya menonton TV
Emak lupa memanas gulai di dapur
Kuali gosong
gulai pun menjadi hitam
tak bisa dimakan lagi

Zaman sekarang sudah edan
semuanya ingin dimakan.
Emak tak bisa melarang orang
mau makan apa, karena tradisi memang berbeda
sedangkan abah menunggu surat jaminan
untuk mengonsumsi pangan yang dijamin sehat
bukan sekarat

:apakah ini teguran Tuhan?

Ikhwal Buku

Helai buku berjatuhan bening di mataku hurufhuruf pudar di pipi jiwaku tertutup sehelai jendela ilmu

Pekanbaru, 2020

D ISKANDAR (DAHRIAL ISKANDAR), telah menulis dua novel yang berjudul Ketika Ombak Menderu dan Jerat-jerat Lokalisasi. Empat buku Antologi Dua Warna, Puisi Munajat Sesayat Doa Riwayat Asap, dan Puisi Hijau. Tiga puisinya masuk dalam kumpulan puisi Festival Sastra Internasional Gunung Bintan 2019, dua puisi masuk antologi membaca asap 2019 dan masuk puisi Pasaman. Cerpennya juga pernah dimuat Haluan Riau, yang berjudul Pesta Disaat Kampanye. Januari 2020 mengeluarkan buku puisi tunggal pertama yang berjudul Gadis Bermata Biru Laut. Penulis lahir di Meskom sebuah desa yang berada di Bengkalis, 05 Oktober 1970. Saat ini masih tercatat sebagai pegawai negeri di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau. Sekarang tunak di @Community Pena Terbang (COMPETER) untuk penulisan puisi..

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close