BudayaCeritaPuisi
Trending

Profan-Sakral Bergantian di Dunia Rapina Semesta

Tak banyak penyair muda berbicara tentang kematian. Selalu berbicara semangat, perbaikan diri. Namun hanya sedikit yang berbicara tentang kematian.

Rapina Semesta adalah salah satu dari yang sedikit itu. Penyair muda asal Riau ini dengan piawai dan ringan berbicara tentang kematian. Tentu saja bukan kematian sebatas kematian belaka.

Ia berbicara tentang kematian eksistensi, kematian cinta, kematian kemanusiaan, kematian tujuan, juga kematian lain.

Baginya kematian bisa terjadi pada apapun. Ketika para penyair muda terjebak memilih diksi senja untuk menggambarkan kematian, Rapina tetap bersikukuh dengan diksi yang sederhana dan terang benderang.

Puisinya berkelindan antara yang profan dan yang sakral bisa bergantian muncul tanpa saling memenjara. Rafina serupa Suma Han, tokoh pendekar super sakti dari Pulau Es anggitan Asmaraman S Kho Ping Hoo yang piawai memainkan Hwi-yang Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Api) dan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Salju) secara bergantian atau malah berbarengan.

Bukan perkara mudah menjaga emosi antara yang profan dan yang sakral. menghadirkan cinta yang sakral dan asmara yang profan.

Selebihnya, mari simak saja puisi-puisi Rapina Semesta berikut ini.

Siluet Diri

ketiga kalinya kau kutuk dirimu yang kian batu. Lumut likat pada rongga mulut juga matamu. lembar kertas berserak di atas kursi tanpa penyangga. Ada alamat tanpa nomor. Kau tahu pasti itu adalah sesuatu yang mesti kautuju. Tapi darah di sudut kertas itu kembali menetes. Buram.
Sekelebat rasa muncul dari dalam entah. Kau berdiri lalu mencari dirimu sendiri.

Di sudut sebuah gang, di bawah tiang listrik kau bersua bayangan. Itu bayanganmu sendiri, bukan?. Gonggong anjing makin melolong.

“Ada mayat di sini, matanya membawa jutaan mimpi”

2020

Waktu Kembali pada Waktu

Jika waktu kembali pada waktu
Akan kubagi ia pada wajah wajah sedih. Sebentuk gula gula kebahagiaan
Agar semua resah musnah.

Jika waktu kembali pada waktu
Akan kutukar topeng topeng pilu
Dengan garis wajah semringah

Agar dunia kembali fana, menemukan dirinya.

2020

Ceritera Bunga

Di jalan pulang Kamboja memanggil
Kukecup ranum mekar kelopak itu

Lima langkah gesah kutemu Seroja
Mengerling indah ke mata dada

Raguku jatuh pada bongsai
Yang kerdil menyempitkan akil
Aku hendak pulang, bunga bunga gugur membuatku lupa waktu.

2020

Rapina Semesta, lahir di Kebun Tinggi 5 Mei 1993. Alumnus Pendidikan Matematika UIN SUSKA RIAU ini selain menulis juga hobi traveling dan mencoba hal hal baru. Pernah juara 1 lomba menulis puisi tingkat Mahasiswa se-Indonesia. Karyanya pernah dimuat di Riau Pos, Tetas Kata, Sayap Kata dan detakpekanbaru.com. Bergiat di COMPETER, season 3.

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close