Budayabukan beritaPuisi
Trending

Pemahlawanan yang Ceroboh

Penyair-penyair muda lahir dan terus mencoba bergulat dengan kata. Upaya memilih idiom untuk menyampaikan hal-hal biasa, menjadi sangat asyik.

Barangkali semua orang akan mengalami, menyaksikan dan menemukan daya ungkap berbeda. Namun menampilkan sosok entah sebagai seorang pahlawan sangat lazim dilalui seorang penyair. Bahkan sekelas Chairil Anwar, Rendra, atau Ajip Rosidi sekalipun.

Interpretasi perjuangan Don Quichote, pengembaraan Odysseus, petualangan dalam cerita Panji juga mitologi lokal dan baru selalu membuka kemungkinan interpretasi yang tak terhingga. Yang serba luas.

Aisyah adalah penyair muda yang bergiat di Community Pena Terbang Pekanbaru. Dari tiga puisinya ini terlihat proses kreatifnya dalam rentang waktu yang berbeda.

Awalnya saya berharap ada variasi tahun yang cukup dekat untuk menuliskan cerita yang sama. Sebab dari situ akan terlihat perjalanan batin seorang Aisyah memberi makna pada sesuatu.

Dalam puisi ketiga, rupanya Aisyah belum memahami bentuk baku dari anai-anai bersayap, atau rayap bersayap, atau laron. Ia menulis judul ‘Kelakatu‘. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia seharusnya bentuk bakunya adalah ‘Kelekatu‘.

Meski bisa berlindung dibalik licentia poetica, namun penggunaan bentuk baku dan kaidah berbahasa tak bisa dirusak begitu saja.

Ini jelas pemahlawanan laron yang sangat ceroboh. Namun ini menunjukkan sebuah proses pencarian yang terus menerus. Sebuah proses yang menunjukkan keberanian.

Saya kecewa karena hanya mendapati puisi yang digubah tahun 2016 dan 2020. Tentu saja di rentang waktu yang ada, tak mungkin ia vakum menulis. Namun dari puisi yang tersaji ini, terlihat plastisitas Aisyah saat memahlawankan sosok entah.

Cobalah disimak dan dibandingkan.

Lelaki Dan Pelangi di Ujung Senja

Di bawah gemertak jati
Seorang lelaki duduk menengadah
Wajahnya digurat huruf-huruf
Sedang tangannya berpeta kata-kata
Lihatlah Kakinya, penuh luka sayat ilalang

Ia kata : kerap kucoba merangkul waktu, tapi ia sirna saat tanganku mengudara

Halaman tua menemaninya menghabiskan senja

Sedang Nasar lalu lalang di angkasa

Seolah mengancam lelaki untuk memutus asa

Ia hanya bersikukuh “Ah, takkan aku menepi berteduh, menjauh gaduh, “

Lelaki itu tahu senja akan selalu tiba

Ia masih saja menilik elongasi,

Menghitung semburat jingga

Hingga ditatapnya pelangi tiba di ujung senja

2020

Tetapi

Katamu berandai pada wajah
Yang kau palu
Bila ia retak
Darahmu mencurat
Dan rupa, jadi tak berurat

2016

Kelakatu

Dian, saat kau eja sirius
Padanya aku terjerumus
Kuhitung orbit kuburu arus
Hingga bercerminku pada Aurora
Sayapku berkelana di puncak nira

2016

Siti Nur Aisyah (sna), alumni Universitas Riau. Belajar merangkai kata di Competer.

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close