BudayaPuisi
Trending

Puisi Muhammad Asqalani eNeSTe

Riau adalah provinsi pujangga. Sastrawan terus lahir setiap jaman dari provinsi ini. Bahasa Melayu yang menjadi dasar Bahasa Indonesia rupanya begitu merasuk dalam DNA masyarakatnya.

Ini adalah tiga puisi dari penyair muda. Sangat muda secara usia, tapi inovatif secara karya. Plastisitas kata sedemikian mengagetkan, tentu dengan gaya bersastra yang astaga.

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Menulis sejak 2006. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar B. Inggris, Esperanto, Spanyol, Francis, Jerman. Mengajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Pendiri Community Pena Terbang (COMPETER). Sedang menyusun buku duetnya bersama Anfa Lah Mulia.

Lalu benarkah komunitas semacam COMPETER ini dibutuhkan? Atau jangan-jangan juga hanya menjadi sebuah gerombolan dan tak menjanjikan apapun?

Bersastra hakekatnya adalah berproses. Keberadaan komunitas yang akhirnya hanya menjadi gerombolan saja sesungguhnya tak terlalu mengkhawatirkan.

Setiap era melahirkan sastrawan. Setiap zaman melahirkan komunitas. Dan ketika itulah lahir ekspektasi-ekspektasi, harapan-harapan. Kekecewaan pada komunitas kebanyakan disebabkan banyaknya harapan.

Maka, pengantar singkat ini sejatinya hanya ingin mengajak, berproses tanpa berharap, mencaci tanpa membenci, dan memuji tanpa memuja. Sebab menyesal dan menyusul tempatnya selalu di belakang.

Yakinlah, dimana ada kelebihan, disitu ada kembalian. Dimana ada kekurangan, disitu ada tagihan.

Salam dan selamat menikmati.

Sania

Sajak ini berlari
Tak berjejak dalam kitab suci
Sebuah tafsir jatuh
Menimpa pekat pikir manusia.

Sania,
Kulihat jalan beribu simpang di sebuah siang
Jalan itu melahirkan sejuta kebingungan
Di siang dan malamku.

Tunjukkan,
Adakah cahaya bulan jatuh
Ke bubungan pondok pesantrenmu?

Apakah saat kau tertawa bersama sejumlah wanita, teman-temanmu, buah-buah kebahagiaan hakiki terpetik?

Aku tulis ini sajak badik
Dengan dada manik-manik
Yang menghias lengang harapanmu,
Memuja bayi-bayi puisimu.

Suatu senja, saat seekor kata hinggap
Aku ketakutan, sayap-sayapnya sehitam rambutmu.

Kukenang kerudung ibu
Yang basah di jemuran
Sementara ibu menangis seharian
Mengetuk-ngetuk pintu langit.

Seorang ustadz dan kata-katanya seperti azan lepas begitu saja; aku masih tidur dan menggeliat dalam selimut jelaga.

2019

Lagu-lagu Sarina

Tuhan itu lucu,
Direnggutnya ayah ibu dari jantungku, hingga lengangku tak berdegup.

Lenganku sebesar ketimun remaja kala itu, belum kutahu makna bungkuk sebagai rukuk, juga kematian begitu puruk.

Hari-hari haru menghajarku. Tak ada yang baru selain buru-buru sendu yang tak lelah senda gurau ke parau suaraku, ke nyeri sendiku.

Dalam tangis paling kelam malam, air mata membalur ke pipi, rahang, ke leher dan ke dada. Kukenang kematian ayah ibu dengan cara curi cahaya, kupetik pengakuan hamba hariba Tuhan sambil ngaji alif bata di batu bangun doa.

Di mata abang kandungku ada umbi-umbi yang siap njalar ke lengan atasku, jadi kekuatan selalu kugendong dalam tas sekolahku. Di senyum kakak iparku, ada perahu esok terus kukayuh hingga dermaga ke surga rahasia itu.

Belajarlah aku kuat dengan peluk tiang agama ketat, kurindukan momen solat juga segala kehidupan taat bahkan bila kejahatan kepung badan.

Mengapung-apung capung di jendela kamarku: Ibu jadi rembulan, ayah jadi gambar di tengahnya. Jangan cegah aku ke surga.

2019 – 2020

Ini Bunga Nurlia Bukan Dusta

Ini bunga Lia bukan dusta. Baiknya kau tidak perlu percaya, pada penyair kurang iman sepertiku. Apakah kau cinta lelaki kurangajar seperti mantanmu, ah aku bisa lebih kurangajar dari itu. Benarkah ia pernah menembakmu, tanpa coklat dan bunga? Atau hanya bayang-bayangmu saja mampu memeluknya. Kata orang pungguk rindu bulan, katamu kau butuh dia seorang, kataku aku butuh kebohongan demi kebohongan. Cinta dan Kebodohan itu kadang sama-sama tak berguna. Mata jadi butuh kaca, hati bergetar seperti hpku direndam ibu. Lia, Lia, ini bunga. Kau tidak percaya? Ini bunga metafor dari kamar hitam inspirasiku. Jangan memetiknya, aku tak jomblo lagi, aku juga tak jatuh cinta padamu. Biru, itu nama palsumu bukan? Apakah kau ditakdirkan selalu haru, selalu pilu? Aku berdoa kepada Tuhan yang suka ngumpet, semoga jodohmu bukan laki-laki bersepatu kulit buaya. Pokoknya aku ingin berdoa, begitu saja. Lia, ini bukan bunga, aku sudah berdusta sebelum puisi ini dituliskan. Kau konyol bahas cinta dan pengkhiatan denganku yang gampang lupa. Oh, namamu Nurlia bukan? Aku ngingat apa ada orang amnesia mengaku kamu?

2020

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Menulis sejak 2006. Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Mengajar B. Inggris, Esperanto, Spanyol, Francis, Jerman. Mengajar puisi di Asqa Imagination School (AIS). Pendiri Community Pena Terbang (COMPETER). Sedang menyusun buku duetnya bersama Anfa Lah Mulia.

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close