Budayabukan beritaPuisi
Trending

Menyoal ‘Hanya Ingin’, Puisi-Puisi Wardah Az Zahra

Pada awalnya puisi dari Wardah Az Zahra ini sangat sederhana. Penyair muda dari pulau yang sama dengan D Zawawi Imron ini hanya ingin tidur, dipeluk ibunya. Sangat impersonal.

Dalam rentetan berikutnya, kita akan menemukan kejutan. mengapa tiba-tiba si aku lirik ini menegaskan ‘ingin’ sebagai ‘hanya’? Bahkan kemudian Wardah ini berakrobat secara typography dengan mengacak-acak dan mengulang ‘ingin’ tersebut.

Secara harfiah, sesungguhnya manusia memang dijajah oleh ‘ingin’. Selalu mengatasnamakan ‘butuh’ untuk mengakomodasi ‘ingin’. Disitulah kemudian sering terjadi pertentangan.

Pertentangan manusia dengan manusia, yakni ketika ‘ingin’ bertemu dengan ‘ingin’ dari orang lain. Juga pertentangabn manusia dengan Tuhan, yakni ketika ‘ingin’ dipaksakan untuk dipenuhi dan kemudian melanggar norma yang disebut dosa.

Kualifikasi ‘ingin‘ baru memperoleh maknanya ketika disandingkan dengan ‘hanya’.

Sampai disini kita bisa melihat, bahwa penguasa ‘hanya ingin’ berkuasa selama mungkin. Maka lahirlah aturan-aturan yang kemudian menjadi tidak fair. Kita lihat juga bahwa para pejabat korup ‘hanya ingin’ tindakannya tak diungkap ke publik, tak ditindak sebagai melanggar hukum. Maka disusunlah berbagai skenario.

Betapa dengan cerdik dan sederhana Wardah Az Zahra bercerita bahwa selama masih bernafas, maka manusia akan selalu dijajah oleh ‘ingin’. Menjadi berbahaya jika ‘ingin’ itu ternyata menguasai penguasa.

Lalu dalam puisi kedua, saya kira tak ada yang istimewa. Wardah mencoba bercerita sebagai saksi tentang dinamika peradaban kota. Serba datar dan tak ada efek kejut.

Kalaupun ada yang perlu dibahas, barangkali adalah penggunaan tanda baca titik hingga tiga beruntun. Tentu ini ada pesan tertentu. Sayang sekali sampai berulangkali saya baca belum juga menemukan pesan pada tanda baca itu.

Jika hendak menilik secara terperinci, kita sebaiknya memperlakukan Camelia sebagai kita sendiri. Yang selalu tak pernah tahu misteri waktu, bahkan lima menit ke depan.

Bahkan ketika sadar ‘puluhan kalender telah menghapus jejak‘. Jadi bagaimana dengan puisi kedua? Ya dinikmati saja. Kita tak perlu banyak tahu.

Tuhan Maha Tahu, Tuan Mana Tahu?

Salam dan selamat menikmati.

Aku Hanya Ingin

Aku hanya ingin tidur
Di pelukan ibu dengan dengkur
Menerbangkan mimpi
Kemudian ingin pipis di celana, di pangkuan Ibu
Aku ingin menghidu aroma susumu, yang kurang lebih 670 hari aku nikmati. Tak kenal pagi, siang atau malam. Aku merengek meminta kutangmu dibuka dan engkau sajikan hangat kopyor susumu

Ibu, aku hanya ingin dicium
Selembut nafasmu menghirup harum mawar di pekarangan

Lalu doa-doa menembus langit
Dengan tahmid

Ibu, aku hanya ingin
Ingin

Ingin
Ingin
Ingin

Mati tersenyum, menyebut namamu dan Tuhan

Madura, 02/20/2020

Camelia dan Taman Kota

Bising suara klakson dan deru angin menari di gendang telinga
Gerombolan kupu-kupu menyetubuhi kembang-kembang

Aku bisa membaca
Dari pergantian jenis bunga
Dari jeritan langit dan tangisnya
Dari musim ke musim
Camelia utuh dalam kenang penuh linang

bangku di taman kota, tempat kolase biru dan cerita senja

Lambaian tangan mengapung dalam ingatan

Camelia…
Detak jantung yang tak pernah sirna…
Meski puluhan kalender telah menghapus jejaknya

Pamekasan, oktober 2019

Wardah Az Zahra, lahir di kota Gerbang Salam Pamekasan Madura. Ia menamatkan sekolah menengah atasnya di MA Al islamiyah 1 sumberbatu. Bergiat di Competer Indonesia serta Asqa Imagination School (AIS). Beberapa karyanya termaktub di beberapa buku antologi nasional di antaranya; Berdialog Dengan Angin( 2018), JARAK: Jalinan Antara Rasa dan Aksara Kerinduan (2018), Sajak Berpayung Rindu (2018), Masa Lalu di Depan (2018), penyair Cantik dengan Karya Cantik (2019). Juga pernah dimuat di Pos Bali (2018), Buletinkapass.com November 2019, Berita Baru.com serta Travesia.com. WA: 083117600428, FB: Wardah Az Zahra, email: wardatuzzahroh65@gmail.com

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close