CeritaSatire
Trending

Membandingkan Cakil dan Tabiat Penjaga Indonesia

Saya pernah belajar nyakil. Bukan cakil atau nyakil untuk wayang orang, namun untuk jatilan. Barangkali secara gengsi dianggap ada di bawah kelas cakil wayang orang. Tapi yang penting badan bisa bergerak.

Dari bapak yang gemar mendengarkan wayang, mengenalkan saya dengan beberapa dalang lokal, saya jadi tahu bahwa cakil bisa dinamai siapa saja. Tergantung selera dalang. Ada yang menamai Ditya Gendirpenjalin, Ditya Gendringcaluring, Ditya Klanthangmimis, Ditya Kalapraceka, dan lain-lain.

Saya pernah memiliki ide untuk memberi nama Cakil ini dengan nama-nama koruptor. Misalnya Ditya Gayus, Ditya Novanto dll. Tapi sungguh kasihan si cakil ini. Karena ia tak pernah korupsi.

Keistimewaan cakil dibanding buta-buta lain adalah tangan yang bisa digerakkan keduanya. Jika dirunut berdasarkan candra sengkala akan menghasilkan kalimat “Tangan yaksa satataning jalma.”

Artinya, tangan : 2, yaksa : 5, satataning : 5, jalmå : 1. Dibaca dari belakang menghasilkan 1552 Saka, atau 1630 Masehi. Mungkinkah itu tahun penciptaan karakter cakil? Entahlah.

Cakil adalah karakter penjaga batas wilayah suatu negara. Jika ada ksatria yang hendak melintas, ia diberi wewenang mengusir dan jika sang ksatria itu melawan ia memiliki lisence to kill.

Biasanya cakil memiliki tiga anak buah sebagai pasukannya. Tiga buta anak buah cakil ini merupakan penggambaran nafsu yang terbentuk oleh energi tanah, air, api dan udara. Cakil adalah buta atau raksasa yang lincah, mahir silat dan ketika berperang menampilkan gerakan yang khas, estetik.
Sayangnya, ia selalu mati oleh keris pusakanya sendiri. Padahal ia adalah tokoh yang gigih, dan setia pada tugas sampai titik darah penghabisan.

Cakil ini bukan type buta atau raksasa yang gampang marah, play boy, dan korup. Ia adalah sosok humoris, mudah bergaul, jujur, dan setia. Ia tak pernah menyerang lebih dulu, apalagi mencari masalah dan cari musuh.

Ksatria yang dijadikan musuh cakil biasanya Arjuna dan Abimanyu. Dua sosok ksatria ini adalah anak bapak yang mata keranjang dan selalu meniduri para putri pertapa atau kembang desa.

Barangkali karena itulah, saya menempatkan cakil sebagai sosok yang saya kagumi. Hanya karena ia selalu kalah dalam perang, bukan berarti ia seorang pecundang. Kematiannya adalah pahlawan karena sedang melaksanakan tugas, menjaga perbatasan di Natuna eh, maksud saya perbatasan negara. [][][]

edhie prayitno ige – bapak satu anak, penyuka anggrek gratisan

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close