Ceritadolan
Trending

Karanghawu, Jejak Samar Ratu Kidul

Kabupaten Sukabumi adalah sebuah kota kabupaten yang sejuk di Jawa Barat dan memiliki puluhan tempat wisata yang indah bahkan beberapa sudah go internasional.

Beberapa tempat wisata berupa pantai. Pantai-pantai itu ada yang berjajar indah di tepian laut selatan yang disebut Pelabuhan Ratu. Jajaran pantai di Pelabuhan Ratu meliputi Pantai Citepus, Pantai Loji, Pantai karangpapak, Pantai Karanghawu dan Pantai Sawarna.

Masing-masing pantai ini memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Juga aura yang bebeda.

Pantai Karanghawu terletak di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Akses menuju  pantai ini sangat mudah, dapat ditempuh menggunakan mobil pribadi ataupun angkutan umum berupa bus disambung angkot atau ojol. Jalan yang dilaluipun cukup bagus dan lancar. Pantai ini dinamai Karanghawu karena terdapat sebuah karang yang bentuknya seperti tungku atau “hawu” dalam Bahasa Sunda. Di pantai inilah segala cerita baik yang nyata maupun berupa mitos mengenai Ibu Ratu Pantai selatan disebarluaskan.

Perjalanan penulis berawal dari sebuah pantai yang bersebelahan dengan pantai Karanghawu yang dinamakan pantai Karangpapak. Pantai yang luas tak terhalang oleh karang yang menjulang maupun pepohonan dengan pasir lembut memberikan kesan segar dan memberikan kesejukan serta ketenangan ketika memandang ke arah laut.

Ombak di pantai ini termasuk besar dan membuat sensasi tersendiri ketika berenang di pinggirnya. Untuk memasuki wilayah ini tidak dikenakan biaya sama sekali alias gratiiiiiiiis!! Senang bukan?

Puas berenang di pantai Karangpapak, penulis mulai menuju pantai Karanghawu yang berjarak kurang dari satu kilometer ke arah Barat. Penulis menuju sebuah perbukitan yang disebut Gunung Winarum.

Seratus anak tangga, selain memanjakan mata, membuat badan fit. (foto: gambangsemarang.net/indriastuti martarini)

Setelah melewati seratus anak tangga pengunjung akan menemukan tempat peziarahan berupa pesanggrahan di antara rumah-rumah yang menjual cinderamata kerajinan kerang laut dan menjual bunga sesaji.

Nah… untuk memasuki wilayah ini pengunjung dikenakan tarif sangat murah yaitu Rp2.000,00 per kepala. Di pesanggrahan itu terdapat 6 makam yang konon diceritakan bahwa di situlah Ibu Ratu beristirahat setelah perjalanan dari bawah laut. Ketujuh makam itu adalah Makam Eyang Rembang Samca Manggala, Makam Eyang Lendra Kusumah, Makam Eyang Jalak Mata Makuta, Makam Syeh Hasan Ali.

Konon keempat tokoh di atas adalah para syuhada yang pertama kali menyebarkan agama Islam di wilayah Pelabuhan Ratu sekitar abad 15. 

Dua makam lainnya adalah Makam Nyi Mas Ratu Dewi Roro Kidul yang sebenarnya bukan makam sesungguhnya namun hanya berupa nisan kosong untuk menandai tempat singgahnya Ibu Ratu.

Di Kamar ini juga terdapat lukisan besar Kanjeng Ratu dengan pakaian warna hijau yang konon dilukis Basuki Abdulah yang harus satu minggu bertapa sebelum melukis wajah Kanjeng Ratu Kidul. Semua atribut yang ada di lokasi ini berwarna hijau.

Yang kedua adalah Makam Nyai Mayang Sari Nagasari.

Ketika memasuki area pesanggrahan ini penulis tidak berani memotret atau berlama-lama karena terasa sekali aura mistisnya. Entah bagi pengunjung lain. Menurut juru kunci makam sering pengunjung bersemadi atau juga tawasulan di area ini.

Perjalanan berlanjut untuk menuju laut dengan menuruni anak tangga yang cukup terjal. Kali ini penulis menuju sebuah tempat yang dinamakan Karang Kursi.

Inilah karang berbentuk kursi sehingga dinamai karangkursi. (foto: gambangsemarang.net/indriastuti martarini)

Karang Kursi ini adalah sebuah batu karang yang bentuknya menyerupai kursi singgasana terletak di bibir laut yang curam dengan deburan ombak sangat besar. Berada di daerah ini terasa ngeri sekaligus takjub. Banyak versi cerita tentang Karang Kursi ini.

Diceritakan bahwa benda ini merupakan singgasana Ibu Ratu ketika menemui para tamunya. Salah satu cerita menyebutkan bahwa Bung Karno pernah lama bersemadi di Karang Kursi ini dan di situlah tempat bertemunya beliau dengan Kanjeng Ibu Ratu Kidul.

Banyak wisatawan hanya berfoto-foto di tempat ini termasuk penulis, namun banyak juga yang bermunajad di sini terutama pada hari Jum’at Kliwon dan Selasa Kliwon.

Tempat eksotis lain yang penulis kunjungi adalah tujuh sumur, namun penulis gagal menghitung dan memfoto semuanya karena sebagian tertutup air laut. Tidak semua pengunjung bisa beruntung dapat melihat ketujuh sumur tersebut karena jika air pasang maka tempat ini akan tertutup air.

Satu dari tujuh sumur yang diyakini membawa manfaat bagi kesehatan. (foto: gambangsemarang.net/indriastuti martarini)

Adapun ketujuh sumur dan kemanfaatannya bagi yang percaya adalah Sumur Pamuka Lawang, yang dipercaya untuk pembersih raga dari segala sial dan guna-guna. Sumur Ciasihan, yang dipercaya untuk pemikat baik itu untuk lawan jenis atau pemikat semacam memiliki kharisma.

Sumur Cikajayaan, yang dipercaya untuk kesaktian. Sumur Cikahuripan, yang dipercaya sebagai pembersih jiwa dan raga sebelum melakukan permohonan. Sumur Kadudukan, yang dipercaya untuk memperoleh pangkat atau derajat.

Sumur Kasuburan, yang dipercaya untuk permohonan atas kesuburan tanah, sawah maupun untuk memperoleh keturunan. Sumur Panyampurna, adalah tempat mandi terakhir dari semua yang telah dilakukan pada ke-6 sumur sebelumnya.

Kemudian ada sebuah sumur besar yang memiliki aura sangat mistis diberi nama Sumur Gentar Bumi yang menurut cerita di sinilah tempat Ibu Ratu mandi untuk menyembuhkan diri dari penyakit kulit yang dideritanya akibat ulah teluh ibu tirinya.

Terlepas dari hal-hal mistis yang ada, tempat ini sangat indah dan airnya yang biru memberi kesegaran dan cocok untuk menghilangkan penat. Banyak fasilitas yang tersedia di sekitarnya seperti tempat belanja oleh-oleh khas Sukabumi, tempat kuliner, dan fasilitas umum lainnya.

Selamat berkunjung ke Sukabumi. [][][]

Penulis: Indriastuti Martarini, seorang guru SMP di Sukabumi.

Ngaten
0
Muach
1
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close