Cerita
Trending

Jadilah Anak Agar Paham Berbeda Itu Keren

Matahari hampir terbenam. Sekelebat kenangan indah di masa kecil melintas di benakku. Waktu itu saat bulan Ramadhan atas izin ibu aku akan menginap di rumah pakde yang bersebelahan rumahnya dengan rumah orangtuaku.

Pakde sekeluarga beragama Islam. Sedangkan kami sekeluarga memeluk agama Katolik. Aku senang karena menjelang buka puasa boleh ikut menikmati hidangan buka puasa yang segar dan lebih mewah dari biasanya meski siangnya aku tidak puasa.

Pagi-pagi buta aku dibangunkan untuk bergabung sahur dan setelah itu dengan saudara dan teman-teman lain laki-laki dan perempuan berkeliling kampung memukul kentongan dan kaleng untuk membangunkan sahur orang kampung. Masih terasa indahnya dan menyenangkan jika dikenang.

Begitu pula sebaliknya saudara sepupu menginap di rumahku saat menjelang natal tiba. Mereka ikut bergembira memasang hiasan pada pohon natal. Mereka juga ikut membantu serta mencicipi kue buatan ibu. Terkadang teman lain juga ikut bergabung mencicipi kue. Namun saat kami ke gereja mereka tentu saja tidak ikut.  

Sekitar 20 atau 30 tahun yang lalu kita juga masih melihat di TVRI betapa ramai acara saling merayakan antara umat yang berbeda agama baik itu saat lebaran, natal atau acara keagamman yang lain. Kenyataan demikian adalah menjadi pengalaman indah yang sekarang jarang dijumpai kembali.  Benarkah kebahagiaan dalam keberagaman itu telah tercabik? Tidak dapatkah hal itu kembali lagi?  Lalu apa penyebabnya?

Dalam tangkapanku saat ini tidak lagi terlihat kegembiraan anak-anak seperti gambaran di atas. Karena anak-anak saya pun tidak pernah mengalaminya. Bahkan dalam kehidupan sosial sehari-hari yang dapat saya amati pergaulan anak-anak mulai terkotak-kotak karena perbedaan agama.

Saya pernah melihat dan memperhatikan anak-anak usia SD dan SMP berkumpul di lapangan perumahan tempat saya tinggal untuk bermain bola. Saat pembagian regu, seorang anak yang menjadi pemimpin permainan itu berkata bahwa yang kristen satu regu dengan yang kristen saja. Kebingungan terjadi karena jumlah yang kristen hanya 5 anak, sedang semua ada 15 anak.

Dua anak yang muslim harus rela gabung dengan yang kristen sedang satu lagi menjadi wasit. Awalnya yang 10 orang tidak ada yang sukarela mau bergabung dengan yang kristen. Akhirnya 2 anak dipaksa oleh pemimpin kelompok. Prihatin dan merenung melihat peristiwa yang demikian. Saya sempat menengahi agar dibagi regunya bukan berdasar agama tetapi dengan undian, tetapi anak-anak itu tidak mau mendengarnya.

Ada apa dengan mereka?

Tindakan manusia tak lepas dari apa yang diperolehnya dalam pendidikan. Rumah adalah awal dari diperolehnya pendidikan.  Dari sanalah tempat pendidikan yang pertama dan utama. Sejak lahir, bayi sudah dididik di lingkungan rumah. Bayi akan merekam semua yang terjadi di sekitarnya, baik yang positip maupun negatip.

Setelah seorang anak mulai dapat meniru, dia akan menirukan apa saja yang dilakukan oleh orang-orang dewasa di sekitarnya. Anak akan menirukan tindakan orangtuanya karena dianggap yang benar seperti itu. Peran orangtua menjadi sangat dominan terhadap anak.

Apa yang dipahami oleh orangtua sangat menentukan perilaku anak. Pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku dan pemahaman anak. Tak jarang orangtua mengalami kesulitan untuk memberikan pemahaman keagamaan kepada anak.

Karena keterbatasan itulah seringkali orangtua memberikan pemahaman yang sepotong-sepotong kepada anak. Misalnya, kebanyakan orangtua menjelaskan pada anaknya bahwa surga ada di atas. Ketika anak mengejar dengan pertanyaan seberapa tingginya surga, orangtua sudah mulai kewalahan memberikan penjelasan.

Orangtua mulai berpikir agak keras ketika anak mulai bertanya mengapa temannya beribadah di tempat yang berbeda dengan dirinya. Orangtua juga berpikir keras saat anak bertanya apa itu agama. Bahkan orangtua menjadi berpikir sangat keras ketika anaknya mulai bertanya mengapa tidak mengikuti agama seperti temannya. Dalam keterbatasannya, orangtua memberikan jawaban sepotong-sepotong karena menganggap anaknya baru memahami dengan nalar yang sepotong-sepotong juga.

Orang Jawa bilang belum gaduk pikir. Kemungkinan lain, orangtua memberikan penjelasan keliru tentang agama orang lain karena ketidaktahuannya.

Berbekal pemahaman yang sepotong-sepotong itulah anak bergaul dengan temannya yang beragam. Bahkan berdasarkan pengamatan saya. maaf karena kepicikannya ada orangtua yang mengarahkan anaknya untuk bermain dengan teman yang seagama saja. Suku dan ras tidak menjadi masalah untuk bergaul asal agamanya sama. Ketika bertemu teman lain yang berbeda agama, anak dapat mengejek dengan perbedaan agamanya itu. Ini bukan masalah dia Islam, Kristen, atau agama yang lain, tapi bisa terjadi pada semua orangtua dengan semua agama.

Anak dengan perilaku yang demikian tadi akan terus tumbuh dengan pemahamn yang sepotong-sepotong dan tanpa disadari tertanam kuat terus dalam hatinya bahwa pergaulan yang baik adalah hanya pada yang seagama.

Lingkungan yang dipenuhi dengan umat agama tertentu dapat juga membentuk pemahaman sempit. Pemahaman keagamaan hanya diperoleh dari tokoh agama setempat saja. Tokoh agama setempat biasanya hanya memberikan pemahaman satu agama saja.

Pemahaman agama yang sempit tidak menjadi masalah ketika mereka belum bergaul secara luas. Permasalahan muncul ketika mereka mulai bersinggungan dengan dunia luar yang lebih luas dan berbeda.

Sekolah juga sangat berperan dalam penanaman pemahaman keagamaan. Sekolah yang mendukung keharmonisan dalam keberagaman akan mendidik anak untuk menghadapi perbedaan dalam segala hal dengan bijak.

Banyak sekolah menyeragamkan penampilan fisik dan atribut yang dipakai anak didiknya. Sekolah tentu punya tujuan tertentu. Antara lain untuk melatih disiplin dalam menaati peraturan. Selain itu juga menyamarkan perbedaan tingkat ekonomi orangtuanya. Anak dari keluarga kaya tidak dapat begitu saja memperlihatkan kekayaan melalui penampilan fisik dan atributnya.

Keseragaman di sekolah lazim dianggap baik, sehingga dilupakan begitu saja sisi negatipnya. Keseragaman yang ditanamkan kadangkala membuat anak lupa bahwa dia hidup dalam keanekaragaman. Contoh anak kecil katakan masih TK sampai SD dari keluarga ekonomi pas-pasan kadangkala tidak menyadari keluarga dia berbeda tingkat ekonominya.

Ketika ulang tahun temannya dirayakan di sekolah, dia juga minta pada orangtua untuk merayakan ulang tahunnya. Hal yang kelihatannya sepele ini bukan tidak mungkin membuat orangtua yang ekonomi pas-pasan merasa terbebani secara psykologis.

Sekolah yang kebanyakan siswa beragama sama, seringkali membentuk siswa dengan pemahaman keragaman dalam agama tingkat rendah. Guru agama dan guru lain cenderung tidak memberikan pemahaman lain selain agama mayoritas yang diajarkan di sekolah tersebut. Anak hanya mendapat pemahaman satu agama saja baik secara ilmu maupun prakteknya dalam pergaulan.

Pengetahuan tentang agama lain hanya sepotong atau bahkan tidak sama sekali. Hal ini membuat anak tidak menyadari adanya agama yang berbeda di luar lingkungannya dengan segala bentuk implementasinya. Akibatnya ketika bertemu dengan teman yang berbeda agama, mereka dapat keliru bersikap karena mereka melihat orang lain tersebut berdasarkan yang dia pahami. Di suatu waktu mereka bertanya dengan rasa ingin tahu, di lain waktu mereka dapat saja bertanya dengan nada mengejek secara terang-terangan.

Pemahaman akan adanya keragaman yang harus dihormati merupakan hal yang sangat penting untuk ditanamkan pada anak-anak. Keberagaman suku, ras dan ekonomi tidak banyak menjadikan konflik. Namun saat keragaman suku, ras dan ekonomi sudah ditumpangi kepentingan berdasar agama banyak menyebabkan konflik.

Maka penting bagi orang dewasa untuk lebih bersikap bijaksana dalam memberikan pemahaman kehidupan sosial yang dikaitkan dengan agama terhadap anak-anak sebagai generasi bangsa. Perlu penumbuhan sikap menghargai dan saling menghormati dalam perbedaan.

Untuk dapat menghargai orang lain tentu harus mengenal orang tersebut dengan baik. Maka biarkanlah anak-anak bergaul sewajarnya dengan teman-teman dari berbagai perbedaan.

Memang perlu untuk meningkatkan pemahaman agamanya sendiri dengan baik dan benar. Hal ini dapat diperoleh dari rumah, sekolah maupun lingkungan tempat tinggal. Kemudian terbukalah untuk mengenal agama dan keyakinan orang lain dengan benar pula. Hal tersebut dilakukan dengan bertanya langsung, membaca buku atau browsing.

Pemahaman keragaman merupakan hal sangat penting dalam membentuk sikap anak setelah dewasa.  Pemahaman keragaman agama juga sangat penting dalam menyikapi pergaulan dengan pemeluk agama yang berbeda.  Tetapi pemahaman terhadap agamanya sendiri dan agama orang lain bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi sikap anak-anak tersebut.  Ada faktor lain yang mempengaruhi. 

Ada egoisme yang menganggap dirinya selalu benar.  Ajaran agamanya yang harus dijalankan.  Ajaran agama lain menjadi tidak penting.  Pilihan orang lain menjadi tidak penting.  Mereka mau menang sendiri dan turut campur tangan dengan ibadah orang lain.

Ditinjau dari faktor sosial, pada daerah tertentu, suatu agama terasa aneh karena mayoritas masyarakat memeluk agama yang lain.  Orang tidak lagi menilai orang dari perilakunya, tapi langsung menilai dari agamanya.  Sebaik apapun perilakunya, akan selalu dicurigai karena agamanya berbeda.

Dari segi faktor politik pemerintahan juga ada pengaruh bersikap.  Demi meraih posisi tertentu, orang dapat menggunakan isu agama dalam kampanye.  Untuk meraih jabatan pemimpin pemerintahan, ada orang yang menonjolkan kualitas keagamaannya daripada kualitas kepemimpinannya.  Hal ini tentu dapat memicu intoleransi pada masyarakat. 

Dari faktor ekonomi dan suku bangsa, keberhasilan perekonomian seseorang seringkali dikaitkan dengan keagamaan.  Rasa iri dilampiaskan dengan melemparkan isu yang mengarah agama suku bangsa.  Hal ini dapat memicu intoleransi.

Beberapa faktor di atas merupakan pemicu intoleransi keagamaan yang sangat kuat.  Jika tidak disikapi dengan baik, dapat meningkat menjadi perselisihan yang tajam.  Perselisihan ini dapat meningkat dari yang bersifat kata-kata menjadi perselisihan fisik.  Tugas ini bukan semata-mata tugas pemerintah. 

Seperti telah dipaparkan di atas, pembentukan sikap intoleransi dapat bermula dari pemahaman keagamaan yang kurang lengkap maupun faktor lain yang menutupinya.  Pemahaman keagamaan diperoleh dari rumah, sekolah dan lingkungan.  Maka untuk memperbaikinya juga harus dimulai dari rumah, kemudian sekolah, dan lingkungan. 

Faktor pemicu intoleransi keagamaan yang lain dapat disikapi dengan pengendalian diri.  Menempatkan urusan hubungan sosial kemasyarakatan berbeda dengan urusan agama.   Urusan politik tidak dicampur dengan urusan agama orang lain.  Urusan matapencaharian tidak dicampur dengan urusan agama orang lain. 

Jika semua dapat memahami agama sendiri dan agama orang lain dengan baik, diharapkan semua akan berjalan harmonis.  Terlebih lagi jika semua menempatkan urusan sosial, keuangan, dan politik tidak dikaitkan dengan agama orang lain, maka keharmonisan akan semakin indah. Dengan demikian terciptalah generasi muda yang mampu merawat kebinekhaan. [][][]

INDRIASTUTI MARTARINI lahir di Klaten,  seorang guru di SMP N 1 Kebonpedes KAb. Sukabumi propinsi Jawa Barat.

Ngaten
0
Muach
1
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close