BudayaPuisi
Trending

Rahim Kupu-Kupu, Ketegangan yang Menggemaskan

Mengambil idiom kupu-kupu untuk menggambarkan tahapan kehidupan sesungguhnya sangat klise. Dipuja karena ada metamorfosa sempurna. Suka makan dan menakutkan, bertapa, dan berakhir indah.

Pun dengan “Rahim Kupu-Kupu. Revalina Ranting dalam pengantarnya mengaku seperti mendokumentasikan perjalanannya selama jadi buruh migran. Tapi membaca Rahim Kupu-Kupu memang menggemaskan.

Buku ini sampai ke tangan saya sudah jam 23.30, saat mata saya baru saja diganjal kopi Arabica Dogiyai. Arwani, sang editor mendorong pintu rumah yang memang tak dikunci. Anehnya, ia tak mau masuk dan hanya menunggu di depan pintu.

Sesaat ia memberi pengantar kepentingan kedatangannya. Telo, seorang Arwani yang saya kenal mencoba berbasa-basi. Rupanya ia mencoba menjajaki metamorfosa dalam diri saya, seiring bertambahnya usia.

Rahim Kupu-Kupu bagi saya sangat menyenangkan. Saya dibawa bertamasya ke masa saya, saat pertama kali mengenal ciuman. Pertama mengenal keindahan tubuh lawan jenis.

Tapi yang bikin saya misuh, Revalina yang asli Batang ini tak terjebak dalam sedu sedan puja puji manusia yang kasmaran. Ada percikan-percikan kesadaran ilahiah dan eksistensial yang ia letupkan dalam barisan kata.

Saat Arwani menelepon Revalina dan menyerahkan gawainya, saya langsung sok akrab. Biasa gaya seorang laki-laki yang kadang suka modus. Itu alamiah dan naluriah.

Saya sampaikan bahwa sangat sulit bagi saya untuk memahami niat baiknya berbagi isi kepalanya melalui buku. Revalina masih serak bersuara, rupanya ia sukses menjalani ritus mandi sore dan tidur. Bangun gara-gara telepon dari si kenthir Arwani itu.

Kembali ke soal Rahim Kupu-Kupu. Rupanya di balik keindahan cinta birahi (istilah Kwa Sin Liong dalam Bukek Siansu), mencoba diselipkan pesan ketajaman cinta model itu. Cinta yang belum sampai tahap paripurna akan dikuasai keinginan. Keinginan menguasai (bahasa lain memiliki), keinginan dilindungi, keinginan melindungi, keinginan saling tolong, cemburu, dan masih banyak lagi.

Sebagai sebuah dokumen “perjalanan karier” sebagai buruh migran, Rahim Kupu-Kupu begitu menohok. Banyak sarjana sastra, banyak yang mendaku penyair, banyak yang merasa menjadi penulis, banyak yang bangga mengantongi gelar master atau bahkan doktor susastra, namun tak menghasilkan karya apapun.

Dalam diamnya kepompong, Revalina Ranting benar-benar bertapa. Ia mencoba mencari inovasi diantara konvensi sastra. Dan itu menegangkan. Semakin tegang semakin kaya tela. Njelehi. Dan Rahim Kupu-Kupu ini begitu menggemaskan karena ketegangan yang bagi saya cukup kuat.

Yang paling njelehi, Rahim Kupu-Kupu memaksa saya bangun pagi dan mengubah rutinitas. Saya menulis ini, dan tak segera membangunkan Srengenge. Bajindul….. Semoga nggak kesiangan. Telo tenan. [][][]

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close