BudayaCerita
Trending

Feminisme, yang Harus Dijaga dengan Senjata PDF Print E-mail

Layar putih menutupi dinding sekeliling penonton juga di langit-langit. Skenografi Roedjito itu seolah hendak mengatakan bahwa penontonlah yang perlu diberi setting. Atau dengan kata lain, penontonlah yang harus disaksikan dan orang-orang di atas panggung itulah yang justru menyaksikan. Atau dengan kemauan Boedi S Otong, sang sutradara, dunia penontonlah yang justru fiktif dan pertunjukan di atas panggung adalah kenyataan sehari-hari. Dan keseharian itu memang nampak di atas panggung. Ada penggorengan seterika listrik, baskom, dot bayi, sebongkah batu — nyaris digeletakkan begitu saja di atas panggung yang luas berlayar putih tanpa level. Beberapa tali terentang di langit-langit dengan sebuah saputangan warna merah tergantung di salah satunya. Lampu biru perlahan membias diselarasi musik yang ditangani Tonny Prabowo. Dari sini, pertunjukan “Biografi Yanti Setelah 12 Menit” – untuk selanjutnya sebut saja “Yanti” – teks Afrizal Makna, dimulai.

Seorang Yanti membuat gerakan ritmis dan hening, menyiramkan ember (Yanti pembantu ?). Sementara di belakang, pada demarkasi layar, Yanti yang lain membuat gerakan yang ritmis dan hening pula …menggapai-gapai…kadang tersiram ember (Yanti gila ?). Kemudian muncullah seorang Yanti yang lain, membawa tempat sampah plastik berwarna hijau, membuat gerakan-gerakan aneh mencelupkan diri ke dalamnya lalu mengangkat tempat sampah yang telah menutupi kepala dan sebagian dada – (Yanti terpenjara ?). Lalu muncullah Yanti yang lain lagi, menyanyikan sebuah lagu dengan nada-nada patah….menyepi-nyepi….”Ikan mas…” (Yanti kesepian ?). Lalu muncul seorang Yanti yang lain lagi, memetik gitar kecil sambil mendialogkan data dengan intonasi cepat (Yanti karier ?). Kemudian lagi muncul Yanti yang lain lagi dengan kostum pakaian dalam, masuk ke ember sambil menyeterika (Yanti pelacur ?). Belakangan, muncullah Yanti yang dalam adegan wawancara diketahui sebagai wanita berwajah dan bertubuh Asia tapi berbahasa dan beralam pikiran Jerman – diperankan oleh Anouk Soetardjo gadis kelahirann Nganjuk yang dibesarkan dan hidup di Jerman (Yanti terasing ?).

Tokoh Yanti dalam pertunjukan ini memang tidak hanya satu Yanti, tapi bisa banyak Yanti. Disini penokohan mulai membuktikan betapa sangat realistisnya pertunjukan ini, bahkan suprarealis…karena realitas Yanti dikedepankan secara lengkap…sebuah biografi yang mempunyai kecenderungan developing-femininisme. Akan tetapi, apabila dipandang dari kacamata yang tidak terbiasa dengan kecenderungan teater post-modern, orang akan mengatakan pertunjukan ini bersifat eksperimental dalam bentuknya yang abstrak. Suasana yang menggores, memang berkesan surealistik, justru karena visi penyutradaraan yang kaya akan imajinasi. Akan tetapi, imajinasi yang lahir dari sebuah gagasan teater yang berangkat dari subyektifikasi-individual membuktikan, bahwa subyektifikasi paling personal sekalipun tidak bisa terlepas dari obyektifikasi yang bahkan sangat sosial. Disini logika individual jadi sangat indah (artistik-aestetik), tapi begitu kita menggesernya dengan logika sejarah menjadi sangat menyakitkan dan kompleks (tragik-komiko).

Yanti kesepian yang dibawakan oleh Margesti dan Yanti pelacur yang diperankan oleh Zainal Abidin Domba, memulai pergulatannya yang getir dalam narasi biografi yang membebaskan watak-watak tunggal, bahkan jenis kelamin tidak menjadi penting karena ini memang sebuah biografi gender. Atau lebih tepatnya, gender-gap dalam kekuasaan ekonomi, politik, sosial, budaya dst. Masing-masing Yanti, dengan kecenderungan pemeranan narasi, kemudian merebak dalam perkisahannya masing-masing. Dan masing-masing Yanti memang seolah-olah berdiri sendiri-sendiri menjadi saksi-saksi biografi. Panggung seolah-olah pula tidak mempunyai kesatuan ruang dan waktu, tapi pertunjukan ini memang hendak berbicara tentang kenyataan hidup yang membuat manusia berdiri sendiri-sendiri. Bahkan pada gilirannya, sebuah adegan Yanti yang menggergaji biografi itu sendiri – dengan gerakan ritmis menyongsongkan gergaji ke sekeliling panggung – eksistensi manusia semakin terbelah oleh kepentingan-kepentingan politik, ekonomi, sosial, budaya dst.

Lalu dimanakah Yanti sebagai manusia dalam biografinya ? Dialog semua Yanti pada akhirnya memperkatakan : ”Namaku Yanti, seperti perempuan yang berada di bak mandi itu, dan kalau anda menjumpai saya di jalan, supermarket, di kantor, sadarilah bahwa saya Yanti yang pernah berdiam selama 12 menit di dalam diri anda.” Benarkah keberadaan Yanti adalah kegentingan selama 12 menit, dan selebihnya adalah senjata? Dalam dialoh Yanti-Yanti yang lain dinyatakan, ”Biografi Yanti kini harus dijaga dengan senjata. Lalu siapakah Yanti yang berada di bak mandi? Dia adalah Yanti pelacur (Zainal Abidin Domba) yang terbaring di ember besar, sebelum memperkenalkan dirinya secara biografis, ia membuka seluruh pakaian dalamnya – benar-benar telanjang – apakah ini sebuah pertanyaan kunci : betapa langkanya manusia yang telanjang sebagai manusia individual dan bukan manusia politik, ekonomi, sosial, budaya dst. Pada gilirannya, semua Yanti dipersenjatai, apakah ini sekaligus sebuah pertanyaan global : apakah gerakan feminisme sudah sedang dimulai?

Yang jelas tema feminisme terasa mendadak menjadi ending. Sebuah epilog yang justru berbalik ke prolog, dimana tema pertunjukan ini sebenarnya lebih berbicara soal gender-gap dalam fenomena developing-feminisme. Feminisme yang digambarkan dalam adegan akhir – dimana semua Yanti dipersenjatai – bahkan terasa verbal ketika munculnya laki-laki berkostum koki lengkap membawa penggorengan menyala kemudian menggoreng, di hadapan Yanti-Yanti yang tegak dengan senjata. Sebuah kemenangan gerakan feminisme dan kekalahan laki-laki? Benarkah Yanti hanya hidup selama 12 menit sebagai wanita, jika pada adegan yang sebetulnya mengepilog Yanti terasing telah lahir kembali, meskipun secara biologis ia perempuan Asia dan secara intelektual ia wanita Jerman, tapi gendernya mengatakan bahwa ia lebih sebagai warga dunia. Anouk Soetardjo memang mempunyai masalah yang sama, tapi ia begitu eksius sebagai manusia ketika malam itu – sehabis pementasan hari terakhir – jojing di sebuah disco : ekspresi jojingnya seolah merupakan pernyataan pembebasan dari obsesi pertunjukan yang baru dilaluinya.

Sebelum itu, dalam pertunjukan di atas panggung, ia lebih tampak sebagai pemain – suatu hal yang boleh dikatakan berada diluar konsep bahwa penontonlah yang harus disaksikan – Anouk sebagai Yanti bahkan menari dalam keterpenjaraan obsesi sutrada.opra. Yang dalam adegan ini – plus wawancara “eksklusif” oleh seorang pemain bule – penonton justru menyaksikan sebuah obsesi pertunjukan. Disini, Anouk yang jojing di lantai disco tengah melakukan pembebasan dari dunia fiksi ke ekspresinya sendiri. Dan secara kebetulan, saya yang berangkat ke disco bersama Monica cewek asal Australia bareng bersama rekan-rekan Teater SAE, justru menyaksikan bahwa keduanya – Anouk maupun Monica – bukanlah pribadi-pribadi terasing yang justru karena terpenjara oleh tubuhnya, tapi ekspresi keduanya seolah mengatakan bahwa “tanah air” mereka ekspresi-estetis mereka. Disini, manusia sebagai mahluk estetik memperoleh keberadaannya dalam fenomena manusia sebagai pusat budaya – dan kalau toh mereka seniman maka mereka sekaligus adalah sebagai pusat kesenian.

Dari persoalan kemanusiaan semacam ini, benarkah sebuah obsesi pertunjukan seperti yang ditampilkan Teater SAE – plus tema feminisme – pada hakikatnya adalah sebuah sudut individual sutradara (dan penulis teks) terhadap ekspresi-estetik orang-orang yang dilibatkan sebagai pemain. Sekaligus pertanyaan yang tak kalah penting menguntit, apakah tema kecil laki-laki dan perempuan – Yanto dan Yanti, Yanto dengan Yanto, Yanti dengan Yanti…seperti yang ada dalam salah satu dialog – dan tema besar gender, masih diperlukan invigestinya. Jika pada kenyataannya, persoalan yang lebih penting ialah, bahwa bukan jenis kelamin atau gen yang penting, tapi apa yang harus kita pikirkan. Seperti halnya di era pembangunan ini, bukan pembangunan perut dan syahwat yang menjadi penting, tapi apakah pembangunan pikiran sudah berlangsung. Dan pada kenyataannya, bukankah pikiran tidak berkelamin?

Seperti halnya kritikan Afrizal Malna sendiri terhadap pertunjukan ini, ”Bukankah pertunjukan ini banyak berbicara soal kelamin, tapi kenapa seorang pemainnya harus bugil?” [][][]

Eko Tunas ~ Sastrawan, Monologer, Pelukis, Budayawan, tinggal di Semarang

Tulisan ini sudah dibagikan penulisnya ke laman Facebook dan diijinkan untuk ditayangkan ulang.

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close