Cerita
Trending

DELAYED HAPPINESS WITH BESTFRIENDS

Perpisahan pastinya sangat sedih apalagi berpisah dengan sahabatmu sendiri yang selalu ada disaat kamu senang maupun sedih. Tuhan memang adil dengan menciptakan pertemuan lalu berujung perpisahan. Sungguh itu semua membuatku sedih, kalian pasti tahu rasanya dan aku yakin kalian juga tidak ingin merasakannya seperti diriku.

“Niken Kumala Sari” sebagai sahabatku tetapi kami sudah lama berpisah karena waktulah yang memisahkan…..

“Niken pindah sekolah ke Jakarta, dia bilang bahwa kepindahannya disebabkan oleh ayahnya yang dipindah tugaskan ke daerah Jakarta. Ayahnya seorang polisi dengan jabatan KAPOLDA. Sungguh berat hatiku untuk merelakan kepergiannya.

Namaku Syalum Alfasih dan aku sudah kenal sama Niken sejak dari awal masuk SMP. Pertama kali kami bertemu pada saat mencari kelas di papan pengumuman yang saat itu sedang ramai dengan orang yang berdesak–desakan untuk mencari keberadaan kelas mereka masing–masing.

“Hai, salam kenal namaku Syalum Alfasih.” Ucapku sambil mengulurkan tangan

“Hai juga, namaku Niken Kumala Sari.” Ucqpnya sambil menerima jabat tanganku

“Bagaimana aku harus memanggil namamu?” Ucapku dengan bingung

“Oh…kamu boleh panggil aku niken dan aku akan panggil kamu syalum” Ucapnya dengan bersemangat

“Oke, baiklah” Ucapku sambil tersenyum

Kemudian aku bertanya kepada Niken dimana keberadaan papan pengumuman dan apakah niken sudah mengetahui dimana letak kelasnya.

“Ken, apa kamu tahu dimana letak papan pengumuman berada?” ucapku

“Aku tahu lum, papan pengumuman berada di depan sana. Kamu lihat disana banyak orang yang sedang berdesak–desakan untuk melihat kelas mereka” Ucap niken dengan malas

“Apa kamu sudah tahu letak kelasmu?” Ucapku dengan nada lembut

“Tentu saja belum lah lum, lihatlah di papan pengumuman depan sana, banyak sekali orang yang berdesak–desakan untuk melihat letak kelas mereka” Ucap niken dengan sebal serta sambil menghentakkan kakinya ke tanah

Setelah beberapa menit kami berdua menunggu papan pengumuman sepi agar dapat melihat dimana letak kelas kami berdua. Dan setelah papan pengumuman terlihat tidak ramai lagi, kmai berdua bergegas untuk segera menuju papan pengumuman. Aku melihat papan pengumuman sebelah kanan dan Niken sebelah kiri. Setelah 5 menit lamanya kami mencari akhirnya kami berdua berteriak bersamaan.

“Aku masuk ke kelas VII B” Ucap kami berdua secara bersamaan lalu kami melihat satu sama lain kemudian berteriak bersamaan lagi  

“Horeeee…..kita berada di kelas yang sama” Ucap kami berdua sambil berpelukan

“Mari kita cari kelasnya bersama” Ucap niken sambil menggandeng tanganku

“Oke…baiklah” Ucapku

Kami berjalan berdua bersama mencari kelas VII B yang sungguh sulit ditemukan. Diperjalanan mencari kelas, Niken berkara bahwa aku harus duduk bersamanya. Setelah beberapa menit kami mencari, akhirnya ketemu juga dan ternyata berada di lantai 2 sebelah pojok kanan. Kami berdua pun merasa kesal sendiri sebab sudah keliling kesana kemari tetapi tidak ketemu juga. Kami berdua segera masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam.

“Assalamualaikum wr.wb, hai teman–teman sekalian perkenalkan namaku Niken kumala sari” Ucap Niken dengan percaya diri dan Menjulurkan tangannya

“Walaikumsalam wr.wb, salam kenal juga namaku Tatya Galuh” Ucap Tatya sambil menerima jabat tangan dari Niken

“Waalaikumsalam wr.wb, salam kenal juga namaku Teddy Boniya dan yang disampingku ini Ahmad prawira jatmoko

Perkenalan terus berlanjut hingga salah satu dari teman di kelas bertanya siapa yang berada disampingku saat perkenalan tadi. Niken pun lupa untuk memperkenalkan aku kepada teman–teman sekelas dan aku pun sebenarnya merasa malu jadi tidak berani untuk berbicara tanpa ada aba–aba dari Niken.

“Woi ken, siapa perempuan yang berada disampingmu itu? Kenalkanlah dengan kami semua, kami semua penasaran sebab dari awal perkenalan dia terlihat diam saja” Ucap Teddy dengan penuh semangat dan diangguki oleh semua teman sekelas

“Oh…iya aku lupa untuk memperkenalkannya. Lebih baik kalian tanya sendiri saja siapa namanya” Ucap Niken dengan tertawa kecil sebab sedang mengerjai aku

“Hai kamu yang sedang bersama Niken, Siapakah namamu?” Ucap perempuan yang berambut panjang yang bernama Cacandra

“Ehmm perkenalkan namaku Syalum Alfasih dan aku sahabatnya Niken” Ucapku dengan suara lirih serta malu–malu

Lalu kemudia Niken menyela pembicaraan dan berkata bahwa aku orangnya memang pemalu sambil berusaha menahan tawanya yang akan pecah sedikit lagi.

“HaHaHaHa….sungguh pemalu sekali sahabatku ini.” Ucap niken sambil masih tertawa

“Ihhh niken, jangan tertawa dong aku jadi tambah malu nih” Ucapku sambil menunduk dan memainkan jari tanganku

“Ahhh iya iya aku tidak akan menertawakanmu lagi lum.” Ucap Niken dengan mulai berhenti tertawa

“Baiklah jangan diulangi lagi oke” Ucapku dengan suara lirih

“Oke baiklah lum. Mohon bagi teman–teman untuk memaklumi dan tidak mengganggu Syalum oke? Sebab jika kalian berani mengganggu sahabatku Syalum, maka aku akan langsung bertindak untuk melindunginya” Ucap Niken dengan sedikit ancaman

Aku yang mendengarnya langsung tersenyum dan merasa bahwa aku sangat beruntung mempunyai sahabat yang begitu menyayangi dan melindungiku. Sedangkan teman–teman yang mendengarnya merinding dan sedikit takut untuk membuat masalah dengan kami berdua.

Selesai perkenalan kami berdua pun segera mencari tempat duduk yang masih kosong dan ternyata berada di sebelah pojok nomor 2 dari belakang. Kami pun langsung duduk dan memulai hari pertama sekolah SMP.

Dari hari ke hari hingga bulan ke bulan kita lewati berdua bersama. Kami berdua selalu saling memahami dan saling melengkapi satu sama lain. Hingga hari ini pun tiba dimana aku melihat Niken sedang murung serta terlihat sedih. Aku segera bertanya kepada Niken apa yang membuat ia murung dan bersedih.

“Ken, kamu ini kenapa kok murung banget hari ini, biasanya kamu selalu bersemangat dan ceria” Ucapku dengan nada lembut serta ikut duduk disamping Niken

“Aku tidak apa–apa lum” Ucap Niken dengan menundukkan kepalanya

“Ayolah ken jawab jujur saja ada masalah apa? Aku ini sahabatmu, jika ada masalah kamu harus menceritakannya kepadaku” Ucapku dengan memegang tangannya

“Terima kasih ya lum, aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti kamu yang selalu ada buat aku” Ucapnya dengan terharu

“Tentu saja, sekarang kamu sudah tenang bukan?” Ucapku

“Alhamdulillah aku sudah tenang lum, sebenarnya aku murung dan bersedih sebab aku baru saja mendapat kabar dari ibuku bahwa nenekku masuk Rumah Sakit karena penyakitnya kambuh lagi” Ucapnya sambil terisak

“Astagfirullahaladzim, lalu bagaimana keadaan nenek sekarang ken?” Ucapku dengan terkejut

“Aku juga tidak tahu lum, aku merasa sedih melihat nenek keluar–masuk Rumah Sakit saat penyakitnya kambuh” Ucapnya dengan masih terisak

“Yasudah ken, tenangin dirimu dulu. Kita serahkan semuanya kepada Allah SWT sebab Allah Maha Melihat serta Maha Mendengar” Ucapku menenangkan Niken

“Iya lum, makasih ya sudah mau mendengarkan curhatanku” Ucapnya dengan tersenyum dan memeluk diriku

“Sudah–sudah jangan murung dan bersedih lagi, lebih baik kita ambil air wudhu lalu sholat dan mendoakan yang terbaik untuk kesehatan nenek” Ucapku membalas pelukannya dan menenangkannya

“Baiklah, mari kita ke mushola sekolah” Ucapnya sudah tidak bersedih lagi

“Okeee siaapp” Ucapku

Aku turut bersedih melihat Niken murung karena terlalu khawatir dengan keadaan sang nenek tersayang. Aku tetap akan selalu ada untuk Niken disaat dia membutuhkan diriku. Selesai sholat, Niken sudah merasa tenang dan aku pun yang melihat merasa senang. Kami pun segera bergegas untuk masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran selanjutnya hingga bel pulang sekolah berbunyi.

Pada saat teman–teman sudah keluar dari kelas, kemudian aku mulai bertanya kepada Niken apakah sudah ada kabar tentang nenek atau belum. Niken berkata belum ada kabar dari ibuku.

“Ken, bagaimana sudah ada kabar tentang nenek apa belum?” Ucapku

“Belum lum, aku saat ini juga tambah khawatir nihh” Ucapnya

“Yasudah kita tunggu saja dulu kabar dari ibumu ken” Ucapku menenangkannya

“Okee lum” Ucapnya

Setelah beberapa menit kami berdua menunggu kabar tentang nenek dari ibunya Niken, akhirnya pesan yang ditunggu sudah tiba dengan tanda Hp Niken yang berdering. Di dalam pesan itu iibunya Niken mengatakan bahwa nenek masuk Rumah Sakit di bagian ruang mawar no:12. Lalu kemudian aku bertanya kepada Niken.

“Ken, bagaimana isi pesan dari ibu?” Ucapku

“Ibu mengatakan bahwa nenek berada di Rumah Sakit bagian ruang mawar no:12″ Ucapnya

“Yasudah sebaiknya kita segera ke Rumah Sakit untuk menjenguk nenek” Ucapku dengan terburu–buru

“Baiklah, ayo berangkat sekarang” Ucapnya

Kami berdua berangkat menggunakan angkot pasar lalu berhenti di depan Rumah Sakit. Kami segera turun dari angkot setelah sampai di depan Rumah Sakit. Kami berdua berlari dengan tergesa–gesa sebab khawatir akan keadaan nenek. Sesampainya di dalam Ruma Sakit, kami berdua bertanya kepada resepsionis keberadaan ruang mawar no:12.

“Permisi, saya mau tanya dimana letak ruang mawar no:12″ Ucap Niken

“Oh…ruang mawar ya, kalian jalan saja terus nanti ada pertigaan belok kanan lalu lurus lagi terus belok kiri, nah itu sudah masuk ruang mawar dek. Kalian tinggal mencari ruang no berapa yang kalian tuju” Ucap resepsionis

“Wahh, terima kasih banyak” Ucap kami berdua sambil tersenyum

“iya sama–sama dek” Ucap resepsionis sambil membalas senyuman kami

Kami berdua bergegas pergi setelah mendapat petunjuk dari resepsionis. Setelah beberapa menit mencari ruang inap nenek, akhirnya kami pun sampai di depan pintu dan segera membuka pintu. Ternyata di dalam ada ibunya Niken yang sedang menemani nenek.

“Assalamualaikum wr.wb” Ucap kami berdua bersamaan sambil mencium tangan ibunya Niken

“Waalaikumsalam wr.wb” Ucap Ibunya Niken

“Bagaimana kondisi nenek bu?” Ucap Niken kepada ibunya

“Alhamdulilah nenek sudah membaik, kata dokter nenek terlalu kecapekan dan makannya kurang teratur” Ucap Ibunya Niken

“Syukur alhamdulilah jika tidak ada yang serius dari nenek bu” Ucap kami berdua

“Iya, kalian pulang dekolah langsung ke Rumah Sakit?” Ucap ibu Niken

“Iya bu, soalnya aku dan Syalum sudah khawatir banget dengan keadaan nenek” Ucap Niken sambil cengar–cengir

“Iya nih bu, kebiasaan Niken yang selalu khawatir berlebihan dan selalu tergesa–gesa jika ada hal darurat” Ucapku

“HaHaHa…..mohon dimaklumi ya lum, Niken memang seperti itu orangnya soalnya dia persis seperti ayahnya” Ucap ibu Niken sambil tertawa

“Sudah ihh jangan bicarain aku lagi dong” Ucap Niken dengan sebal

“Iya iya nggak bakal lagi deh” Ucapku

“Sebaiknya kalian berdua pulang, nenek biar ibh yang menjaga” Ucap Ibu Niken

“Baiklah bu, kami pulang dulu” Ucap kami berdua bersamaan sambil mencium tangan ibu Niken

“Iya, sudah gih pulang dan jangan lupa untuk makan ya” Ucap Ibu Niken

“Iya bu, assalamualaikum wr.wb” Ucap kami berdua

“Waalaikumsalam wr.wb” Ucap ibu Niken

Setelah beberapa hari berlalu akhirnya nenek sudah pulang ke rumah dan kondisi nenek semakin hari semakin membaik. Aku dan Niken pun sudah mulai tenang mendengar kabar baik yang di sampaikan oleh ibu.

Kemudian bulan silih berganti dan akhirnya pun tiba, dimana saat–saat yang tidak aku inginkan pun terjadi sangat cepat. Aku mendapat berita bahwa sahabatku Niken akan pindah sekolah dikarenakan ayahnya yang dipindah tugaskan ke Jakarta. Aku yang mendengar berita itu pun begitu terkejut dan akhirnya aku mencari Niken untuk bertanya kebenarannya.

“Ken, apa benar berita yang sedang trending topic saat ini bahwa kamu akan pindah sekolah?” Ucapku dengan nada lirih

“Aku harus bicara apalagi lum, memang kenyataannya seperti itu” Ucap Niken dengan menundukkan kepalanya

“lalu jika memang benar, mengapa kamu tidak memberitahukan kepadaku bahwa kamu akan pindah sekolah?” Ucapku sedikit sedih dan kecewa

“Aku tidak memberitahumu sebab aku tidak mau melihat kamu bersedih lum” Ucap Niken sambil memegang tanganku

“Mengapa kamu melakukan itu ken, aku jelas akan sedih sebab aku kehilangan kamu ken. Kamu tau bahwa kita ini seperti adik kakak yang kemana–mana berdua bahkan orang yang melihat pun berkata bahwa kita seperti kembar. Dimana ada aku maka disitu ada kamu begitupun sebaliknya ken. Kenapa kamu mau meninggalkan aku sendiri disini ken?” Ucapku dengan mulai menitikkan air mata

“Sebenarnya aku tidak mau meninggalkan kamu lum, tapi aku harus bagaimana? Ayahku dipindah tugaskan ke Jakarta dan otomatis aku beserta keluarga harus ikut pindah ke Jakarta juga” Ucap Niken ikut serta menitikkan air mata

“Tapi aku nggak sanggup berpisah denganmu ken” Ucapku dengan sesenggukan

“Aku pun begitu lum, tapi tenang saja lum aku pasti akan kemari disaat liburan sekolah dan kita masih bisa saling memberi kabar melalu Whattshap,Line,Instagram,telepon bahkan sms” Ucap Niken sambil menghapus sisa air mata yang ada

“Hufttt baiklah ken, aku harap kamu tidak akan melupakanku saat disana nanti” Ucapku dengan mencoba tersenyum

“Terima kasih sudah mau mengerti keadaanku lum” Ucap Niken terharu

“Sama–sama niken ku” Ucapku sambil mencubit pipinya yang gembul

Setelah beberapa menit aku dan niken berbincang–bincang tiba juga saatnya dimana hari ini Niken akan pergi meninggalkan diriku disini sendiri. Sebenarnya aku tidak ikhas Niken pergi, tapi aku harus tau keadaannya saat ini dan berusaha untuk tetap tegar menghadapi kenyataan yang pahit ini. Hari ini hari dimana aku harus terlihat tersenyum walau sebenarnya aku sangat sangat bersedih bahkan ingin sekali aku menangis. Tetapi aku tidak mau menangis, aku harus bisa tersenyum agar Niken pun ikut tersenyum.

“Hai my bestie” Ucapku dengan bergetar

“Hai juga lum, hari ini aku izin untuk pergi sebentar saja dan aku pasti akan kembali ke sisimu lagi lum. Aku berjanji saat dewasa nanti aku akan kembali kesini dan menikmati hidup bersamamu lum. Kita harus lebih banyak bersenang–senang nantinya lum” Ucap Niken menahan air matanya yang akan menetes

“Tentu saja ken, aku akan menunggumu disini dan tolong jangan ingkar janji oke” Ucapku masih dengan bergetar menahan tangisku

“Ayo niken sudah waktunya kita berangkat nanti takutnya dijalan macet” Ucap Kedua orang tua niken

“Baiklah bu, aku akan segera menyusul kesana setelah berpamitan kepada syalum” Ucap niken sambil berusaha tersenyum

“Yasudah ken gihhh sana hampiri ibu dan ayah mereka sudah menunggu di mobil” Ucapku tersenyum

“Baiklah lum, aku pergi sekarang ya dan ingat janjiku oke serta jangan pernah lupakan aku lum” Ucap niken sambil menangis dan memelukku

“Sudah pasti aku akan menunggumu disini ken, dan aku juga tidak akan pernah melupakan dirimu serta kenangan kita berdua” Ucapku sambil membalas pelukannya dan ikut menangis

“Tunggu aku ya lum” Ucap niken sambil melepaskan pelukannya dan segera berlari ke mobil

“Aku pasti menunggumu ken” Ucapku dengan berteriak

Disaat mobil yang dikendarai niken sudah jauh dari pandanganku, aku pun tidak sanggup untuk menahan air mataku lebih lama lagi. Mulai hari ini aku sendirian dan akan melakukan semuanya tanpa hadirnya seorang niken. Aku menangis kencang kemudian turunlah hujan yang semakin lama semakin deras. Hari ini aku berpisah jauh dari sahabatku disaksikan oleh alam semesta bahkan alam pun merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Setelah sekian lama aku menangis dibawah guyuran hujan, aku pun bangkit dari kesedihanku dan mencoba tegar serta ikhlas dengan semua ini. Aku pun pergi pulang ke rumah untuk menenangkan diri di dalam kamar.

Dari hari ke hari bahkan bulan ke bulan hingga tahun ke tahun aku selalu menunggu kedatangan niken. Sekarang semuanya telah berbeda, dulu disaat ada niken semuanya aku lakukan bersama dirinya tetapi sekarang aku harus melakukan semuanya sendiri. Aku selalu menangis mengingat kenangan–kenangan indah kita berdua. Aku tetap akan menunggumu disini sahabat terbaikku. [][][]

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close