BudayaCeritaPuisi
Trending

Indri Bicara Puisinya

RINDUKU

Hatiku daun daun gugur
menyapa kampung kelahiran
kampung jauh terjal
berbatu di ujung bukit
bukit sepi dari riuh televisi
aku terlahir
saat malam bersinar terang
aku dalam gendongan ibu
senyum terpancar di wajah syahdu
mentari cerah menyambut kelahiran baru
ayah tertawa
ibu tersenyum bahagia
tangisku memecah pagi dusun sunyi

[][][]

Sepintas membaca puisi yang saya tulis pada tahun 2016 di atas memang tidak ada yang istimewa.Puisi ringan,tanpa diksi-diksi yang kuat, bahkan terkesan seperti puisi karya anak SD.

Tapi inilah puisi yang saya tulis dengan getar kerinduan luarbiasa karena keinginan untuk pulang menemui ibu dan bapak waktu itu tidak bisa terlaksana, Kendal – Wlingi Blitar bukan jarak yang dekat untuk bepergian (saya baru saja dirawat di rumah sakit cukup lama waktu itu, belum bisa bepergian jauh).

Membaca ulasan Bang Arsyad Salam tentang puisi saya di atas yang dishare di media facebook beberapa hari lalu,mau tak mau kembali memunculkan kenangan memilukan yang hingga hari ini belum bisa hilang dari benak saya.

Ya, bulan Nopember ini bertepatan tiga tahun wafatnya ibu, penyesalan yang sangat besar dalam hidup saya, karena tidak mendampingi ibu, waktu itu saya sedang di Bandung untuk sebuah acara.

Makanya sekedar untuk mengurangi rasa bersalah ini,tiap kali pulang ke Wlingi,ritual rutin saya tiap pagi adalah jalan kaki ke makam mengunjungi ibu, setiap hari selama saya di sana, walaupun saya tahu ini tidak akan merubah segala penyesalan saya di masalalu.

Sungguh saya merasa sangat suprais sekali kalau ternyata puisi sederhana yang terhimpun dalam antologi tunggal saya kedua INI HAMPIR PUKUL TIGA terbit th.2018 ini diapresiasi dengan sangat bagus oleh penulis dari Makasar Bang Arsyad Salam.

Ini artinya Bang Arsyad Salam tidak hanya sekedar membeli buku saya dan menaruhnya di rak buku begitu saja, tapi beliau membacanya.

Bukan hanya tentang puisi ini, bahkan Bang Arsyad tahu betul ada berapa puisi yang bercerita tentang perempuan dan hujan, lengkap dengan halamannya dalam buku antologi tersebut.

Hingga hari ini, Bang Arsyad satu-satunya orang yang membaca buku antologi saya dengan begitu detail dan mengulasnya dengan sangat apik.
Apresiasi positif seperti inilah yang semakin menyemangati saya untuk terus menulis dan menulis.

Terimakasih Bang Arsyad Salam.

Saya percaya, suatu saat puisi-puisi saya akan menemukan takdirnya di tangan pembaca yang tepat.

Semoga

Kendal,22 Nopember 2019
Indri Yuswandari~penyair asal Kendal Jawa Tengah

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close