BudayaCeritaPuisi
Trending

Puisi Sus S Hardjono Sragen Tentang Batik Semarang

ASAM ARANG

Aku adalah jalan panjang kebangkitan
Setelah malam malam menggumpal beku dan padam
Kini menair meleleh dan menyala anglo anglo di tanganku
Aku adalah sejarah panjang kotamu
Aku adalah saksi dari kampung batik
Kampong kampung kuno
Kami menjadi urat nadi ekonomi sejak zaman kerajaan
Dan tangan tangan perkasa kami
Melukis amba dan titik
Pada simbol simbol dan sejarah panjang
Sebelum Jepang datang membumihanguskan kampung kampung kami

Dari Batik ini kami hidup bernafas dari hembusan nafas malam pada canting
Gemerincing
Menumpahkan lenggak lenggok merak mekrok
Dan segala isi bumi yang kami punya

Hidup penuh simbol simbol
Dari batik kami hidup
Tangan dan kaki mandiri menghidupi anak anak kami
Dari lembaran mori yang digeber panjang
Adalah lambang ketekunan dan kesabaran di dalam dada kami

Tradisi kami tradisi panjang sejarah
Dari cerita serat Kandhaning Ringgit Purwa
Sejarah Ki Pandan Arang yang melekat pada ingatan kami

Dari Pegisikan dan Bubakan
Antara pinggir segara dan daratan
Kamii menempati

Ki Pandan Arang sang Juru Nata Prajan
Dari Demak hingga Jurnatan

Dari tangan tangan kecil ini
Malam dan canting
Melukis alam ornamen ornamen

Tetumbuhan, semen dan lung lungan
Dalam sarung dan tumpal

Dari pucuk rebung kepala tumpal dan sorotan

Dari pertempuran lima hari di Semarang
Tentara tentara nipong membakar dan memberangus semua kekayaan
Kampung kampung batik dibakar
Rumah rumah penduduk dibakar

Asam arang
Adalah sejarah Semarang
Bandeng presto, dodol dawet
Ceplok grompol cattleya
Merak jeprak
Blekok Srondol
Beras Wutah Rowosari,

Semarang , 2019

GAMBANG SEMARANG

Lagu merdu yang membuat laut tenang dalam dekapan
Tanganmu
Ia hanya menjadi alun mengalun
Tak pernah merasa pahitnya geitr menjadi nasibmu

Saat sisinya robek
Saat tubuhnya penuh cakaran tinta zaman
Yang tak pernah memihak pada nasib dan takdirmu
Ia tetap dalam penindasan dan penekanan
Seperti sejarah hawa di balik kain jaritnya
Canting canting itu dibawa dituliskannya
Dalam berlembar lembar waktu
Yang panjang
Dalam kain dan sinjang

“bentakan bentakan“ itu yang membuat jantung berjatuhan
“teriakan teriakan lelaki“ itu hanya menebalkan garis dan titik
“amarah amarah dan kebiadaban lelaki“ itu meleleh dalam jerang arang

Malam itu dilukiskan wajah yang garang
“tajamnya menebas dan mebelah langit“ menjadi malam yang encer
Sampai kapan tragedi dan komedi berlangsung

“haruskah kau berada selamanya di dalam?”
Sementara kau tahu di luar banyak drama
Sedang berlangsung

Haruskah kau menari sendiri ?
Dengan dending gending kematian yang menakutkan
Dan membahayakan dirimu sendiri

Sedangkan kau hanya dianggap jurang dalam
Tempat segala riwayat ditimbun dan dibuang
Seperti tempat jugrangan sampah yang dibuang

Owh inikah riwayat sepanjang zaman
Riwayat panjang antara Tanjung emas
Dan daratan makin jelas
Kau adalah tangan tangan perkasa yang merajut jarring
Saat perahu perahu kecil melayari
Sampan sampan yang terdampar di pinggir pantai

Engkau tetap melayari lautan buas
Sendirian
Dengan ujung lentik jarimu
Menulis langit
Tak henti menuju dermaga
Saat anak anakmu di atas sampan kau kayuh tanpa lelah
Membawa ke dermaga penantian

Sragen, 2019


MERAK MANGU

Adalah pertarungan antara keragu raguan
Dan kepastian
Hak dan kewajiban
Pantas dan melawan
Semua ada di batas ragu dan mangu
Hendak kemana jalan dituliskan, bertahan dalam survival
Atau mencuri, mengambil yang bukan haknya

Merak mangu
Betapa tipis antara keikhlasan dan kesabaran
Sebelum merak Njeprak
Mempertontonkan birahi keindahan pada lawan jenisnya
Simbol simbol yang acap luput dan jadi sengketa

Antara simbol simbol pencarian jati diri batik
Antara lingkungan dan tahta di atas
Hidup di awang awang
Sedangkan kaki menapak bumi
mengambil atau meminjam

Hukum hukum yang selalu bicara atas nama tubuh perempuan
Lalu keindahannya dijeprakkan
Di tengah segudang komunitas pejantan
Karena dialah yang akan terpilih menjadi ratu
Ratu atas batik
Perjuangan simbol dan kreativitas
Yang tak berbatas

Maka lukisan, simbol simbol
Dari alam telah member isyarat
Dan tanda tanda
Sementara tanah dan air telah menyatu
Mata air yang telah lama hilang
Indonesia yang kaya
Menjadi miskin kerontang
Karena banyak maling di dalamnya
Keserakahan yang telah menjadi panglima
Merusak seluruh simbol alam
Jagat raya

Sragen , 2019

STASIUN TAWANG

tubuh kita adalah jalan rel rel yang panjang
sedang nafas adalah pintu gerbang
stasiun penghabisan

tawang di musim puisi
kita menunggu perjalanan yang tak akan ada habis habisnya
berduyun duyun dari kota ke kota
dari masa kecil
dokar, bendi dan jatingaleh
dan mengenang pasar pasar tradisional
yang terbakar
adalah sepenggal waktu berkelebat bayangan masa lalu
diantara hembusan daun murbey di tepi sungai jernih
di belakang rumah

dan kita telah semua tahu
meninggalkan kota mu
menuju kota baru
dan hidup baru
namun ada yang tak hilang
tilas waktu kenangan berkebun
di semak ilalang di depan dan belakang rumah
di rimbun pokok daun rambutan
warna merah menyala di timur matahari
adalah sepenggal; waktu berkisah
sebelum handai taulan terkubur di taman

di kampung inilah aku menuju stasiunMu
stasiun Tawang
di malam hari menuju entah perjalanan kemana dan berhenti di stasiun apa
sebab tubuh hanyalah perjalanan
sebelum berakhir

semarang , 2019

GAMBANG SEMARANG

mengambang sore nan rembang
di petang yang temaram
gambang semarang mengalun
menghabiskan sisa sisa kopi dan seteguk pertemuan
waktu begitu cepat
menuntaskan kerinduan yang tak bertepi

di tugu muda
dan simpang lima
lampu lampu mengejek perpisahan
menjejak kaki kita yang harus segera pergi
meninggalkan gereja blenduk dan lawang sewu

gambang semarang menyisakan alunan angin
yang tiba tiba harus melayang
kenangan dan harapan
saat tangan mulai menjauh meninggalkan hangatnya malam
berkopi di antara
simpang lima dan wisma perdamaian

mengalun seperti bau flamboyan
dan wingitnya lawang sewu yang tak bisa dibuka
hidup hanya keluar masuk pintu ketakutan
penjara penjara kolonial dan mengelupas sejarah kita
yang terkoyak di kota lama
kota tua kita

seusia cinta kita
yang terlalu tua
untuk di zaman milenial yang sungguh tak ideal

kita hanya sebuah tembok tua dan kusam
wajah usia kita yang ditinggalkan kemolekan
wajah Sri Ratu dan lampu lampu kota
Semarang dalam sajak
hangat mencocol lumpia
seperti mencocol usia muda
kita
saat waktu seperti gerbong kereta
mengangkut daun daun pupus merah muda

Semarang , 2019

LUMPIA

itu makanan kesukaanmu
seperti gadis keranjingan fashion korea
dan gaya rambut dan pakaian remaja

melihat hangatnya lumpia
bersanding di bangku Simpang Lima
kau mencocol masa muda
beratus abad silam
saat laksamana Cengho jatuh cinta
pada gadis belia
dari pasukan pasukan cina
perahu perahu yang mendarat di laut utara

Kota yang menyimpan berjuta cerita
mengingat dan menolak lupa
dugderan dan kirab budaya
aku pernah jatuh cinta
seperti gadis belia

Semarang , 2019

SAM PO KONG

pada gua batu jadi saksi bisu
perahu perahu dari Tiongkok
lalu begitulah cinta menemukan pelabuhannya

bagaimana sebuah negeri
dalam bayangan cerita
dan aku mengenangmu
tentang jejak jejak kaki kaki
itu
dunia telah menuliskannya
dalam puisi

Sragen , 2019

SEKAYU

menyusuri waktu
aku telah tiba pada saatnya
terhenti menyusuri jalan bandungan
dan memandang bukit Gunung Ungaran

lalu benemeukan pelayaran abadi
antara Sri dan St Ives
seperti pilihan dua hati
dua dunia yang berbeda

dan melalui keberangkatan
akhirnya aku menemukan tempat
yang sungguh damai
menemukan pondok cinta
dan dari jendela sebuah wisma
menghabiskan sisa sisa cerita
bahwa hidup adalah sebuah paragraf panjang
dari buku buku novel
yang tak selesai kita tuliskan
kisah kisah duka dan romansa
kisah kisah sentimental dan realis

dan lampu lampu jalanan kota
gemerlap kota pelabuhan
di Tanjung Mas
Layar pun terkembang
menyeberangi dua hati

sejak kau tuliskan kisahnya dalam novel
Semarang menjadi kisah cerita
protagonis dan antagonis
dalam alur sebuah kehidupan
panjang
Hidup hanyalah sebuah novel
yang berisi kisah
lahir nasib dan meninggal

Semarang, 2019

BIO DATA : Sus S. Hardjono lahir 5 Nopember l969 di Sragen.
1990 an – Aktif menulis puisi, cerpen dan geguritan dan novel sejak masih menjadi mahasiswa, serta mempublikasikannya di berbagai media massa yang terbit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Puisinya dimuat di Bernas , KR , Pelopor Jogja , Merapi , Solo Pos , Joglo Semar , Suara Merdeka , Wawasan , Swadesi , Radar Surabaya , Minggu Pagi , Cempaka Minggu ini dll.


Waktu itu Ia juga sempat bergabung dalam Kelompok Teater Peron FKIP .Pernah aktif di majalah kampus Motivasi. Aktif di berbagai komunitas di Sragen . APPS (Aliansi Peduli Perempuan Sukowati ) , di YIS Solo (Yayasan Indonesia Seejahtera) , aktif di Yayasan Darmakumara Solo (Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Jawa ) , aktif di KPPS , Mansaceria , Teater Gatra , dll.

Dan sekarang mengelola majalah pendidikan dan aktif wartawan pendidikan di Kemenang (Kankemenag Sragen dan Kanwil Jateng).
Novelnya perdana Sekar Jagat dan sekarang menulis novel keduanya yang berjudul Pengakuan Mendut.Dan novel Ketiganya Surga Yang Hilang.
Juga disampiri mengelola majalah pendidikan di MAN I Sragen .

Sudah 80-an buku antologi bersama.Buku antologi puisinya diantaranya: 1.Getar 2 (HP3N Batu Malang tahun 1990 ).2.API (Mizan Bandung,1997 ),3.Kicau Kepodang 5 (Forum Sastra Surakarta, 1997),4.Tamansari (FKY DKY Yogya, 1998), 5.Redi Lawu (TBS Solo , 2008), 6.Sethong 2(Taman Budaya Jawa Tengah tahun 2009).7.Equator ( Yayasan Cempaka Kencana Yogyakarta , tahun 2011).8. Jantera Terkasa (Solo ,1998).9. Satu Kata Istimewa (Yogya 2012)..10 Nyanyian Pedalaman .11.Sebab Cinta (Yogya ,2012).12. Negeri Poci 4 (KKK Jakarta ,2013).13. Titik 13 (Pekalongan ,2013).14 DSMI (Sragen ,2012).15.PMK (Solo,2013).16. Dari Dam Sengon Ke Jembatan Panegel Gus Dur (Kudus , 2013).17. Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013).18. Lentera Hati (PBKS,2013).19. Dekap Aku Kekasih (2014).20.Kartini ( Jakarta ,2012).21. Saksi Ibu Reformasi ( 2014).22. Tifa Nusantara (2013).23. Profil Perempuan Pengarang IndonesIa (KKK, Jakarta 2013).24 Langkah Kita (Yogya , 2014).25. Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia (2014).26. Sastra Pendhapa 15-Risalah Usia Kata – (TBS , 2014).27. Negeri Langit (Poci 5, KKK , 2014 Jakarta).28. Pengantin Langit (KSI ,Jakarta 2014).29.Sang Peneroka (Gambang, Yogya , 2014).30. PMK 4 (Solo , 2015).31. Palagan Sastra (DSJ , Jakarta , 2016).32. Memo utk wakil Rakyat , (Solo , 2015).33. Siraman Cinta (D3M Kail , Jakarta , 2015).34. Membaca Kartini (Joebawi Jakarta , 2016).35. Memo Anti Terorisme (Solo ,).36. Tanjep Kayon (Bogor , 2016).37. Gelombang Puisi Maritim ( DKB Banten , 2016).38. Petala ( D3M Kail Jakarta , 2016).39. Puisi Sekarepmu (Yogya , 2015).40.Jendela dari Koloni (Solo , 2015).41. Lirik Firdausi (TB Jakarta , 2014).42. Kata Cookies Pada Musim ( Blitar , 2015).43. Perempuan Menentang Korupsi ( Solo , 2015).44. Tifa Nusantara 2 (DKKT , 2015).45. Melati Berdarah ( Solo , 2012).46. Sekar Jagat (Solo , 2016).47. 1550 DPDL (Puisi Kopi Penyair Dunia, 2016) 48. Negeri Awan ( KKK, 2017).49. Kartini (2017) , 50. Wanodya (Interlude Yogyakarta, 2017), 51. Perempuan Mengasah Kata (TBS ,2017). Batik si Jelita (KKK, 2017), 53. Sur Bumi sur Kukusan (Cerkak , Trenggalek : 2017). 54. ADSPI (Apa dan Siapa Penyair Indonesia , 2017). 54.Perempuan di Ujung Senja (Tonggak Pustaka Jogya , 2017) ,55. Merawat Kebinekaan (BBJT , 2017) , 56. Senja Bersastra di Malioboro (Yogya , 2017), 57. Wanodya 2 (Interlude , 2018) ,58. First of Rain (Banjarbaru , 2017) , 59. Puisi Pindul (Yogya , 2017) , 60. Negeri Bahari , KKK Tegal , 2018).61. Perempuan Memandang Dunia ( Mojokerto , 2018),62. Kepada Hujan di Bulan Purnama (Tonggak Pustaka , Jogyakarta , 2018) , 63. Menjemput Rindu di Taman Maluku ( Semarang , 2018 ). 64. Perempuan Negeri Bahari (Jakarta, 2018). 65. Ruang Tak Lagi Ruang (Tegal, 2018) , 66. Puisi Kekasih Sejati (Jakarta , 2018), 67.Puisi Guru (MURI) Jakarta , 2018.68. Hujan di Bulan Purnama 2 (Tembi Yogya , 2019). 69. Seribu Sisi Dini (Semarang , 2019). 70. Malam Anggara Kasih 2 (TBJT , 2019), 71. Jantera Terkasa (BBJT , 2019), Apa Siapa Penyair Jawa Tengah (BBJT 2018), 72. Pertemuan Penyair XI Kudus (Kudus , 2019).73. Membaca Hujan di Bulan Purnama (Tembi , 2019).74. Cincin Api (2019), 75Negeri Pesisiran (KK ,2019), 76.Dokumentasi sastrawan Jateng (TBJT , 2019), 77. Mengenang Lik Gir (Blitar RBK, 2019), 78. Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2019)

Tahun 2012 – RSS dan DKDS Mengadakan Launching buku Sragen Memandang Indonesia Tahun 2014 Launching buku Habis Gelap Terbitlah Sajak (RSS & APPS) , Tahun 2014 Launching Buku dan Road Show PMK 23 di MAN I Sragen , Tahun 2016 – Launching buku Perempuan Mengasah Kata (RSS & TBJT) , Tahun 2017 Launching buku PMK 6 dan Roadshow PMK 48 Buku Antologi Puisi Guru n Siswa MAN I Sragen di MAN I Sragen.

Tahun 2017 mendapat penghargaan Pendidik Peduli Bahasa dan Sastra dari Balai Bahasa Jateng
Antologi puisi tunggalnya : Tembang Tengah Musim (2018)

Mengelola RSS di Sragen yang mengelelola komnutas puisi mansaceria ,dan
LESEHAN SASTRA RSS Jl, Raya Batu Jamus Km 8 Mojokerto Kedawung Sragen
Mengajar di MAN I Sragen jl. Irian no 5 Nglorog Sragen
HP 082 134 694 646
Email : susilaning87@yahoo,com
Fb Sus S. Hardjono dan Rumah Sastra Sragen

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close