Cerita
Trending

Teh Poci

Aku harus segera angkat kaki dari kost “wisma Sekar”. Sebulan lalu ibu kost memberitahu kalau rumah kostnya akan direnovasi. Penghuni kost diminta mengemasi barang-barangnya.

Temanku yang lain sudah ada yang keluar dan telah mendapatkan tempat kost baru. Tetapi masih ada juga beberapa teman yang belum keluar. Mereka masih mengemasi barang-barangnya. Mereka juga sudah mendapatkan tempat kost baru cuma barang-barang belum dipindahkan.

Sementara aku masih termangu di pinggir dipan tempat tidurku. Belum ada barang-barang yang kusentuh untuk dikemasi. Pandanganku nanar menyapu ruang 2 x 3 meter.

Jam dinding bergambar mawar merah masih membisu pada dinding warna kuning gading. Buku-buku kuliah masih berjajar rapi di meja belajar. Beberapa pakaian yang sudah ku pakai masih menggantung di balik pintu kamar. Dan sebuah potret kecil masih bertengger manis meja belajarku juga. Pikiranku mengembara tak tentu arah.

Perlahan aku bangkit dari dudukku dan mendekati sebuah foto seorang lelaki yang pernah mengisi hari-hariku. Ku tatap dan ku usap lembut wajahnya.

“Dimana kamu sekarang, mas?” ucapku lirih hampir tak terdengar olehku sendiri.

“Seandainya saat ini kamu ada disini, aku bisa berbagi cerita denganmu. Seperti hari-hari yang telah terlewati. Aku begitu nyaman disampingmu. Namun semenjak pekerjaanmu naik jabatan seketika itu juga kamu tak pernah menemuiku lagi bahkan menghubungi ku pun tidak. Bagai ditelan bumi kamu tak ada kabarnya. Saudara sepupumu pun jika ku tanya dengan wajah masam menjawab bahwa kamu tugas di luar pulau. Namun tak sempatkah kamu walau sebentar untuk menghubungiku. Hatiku senantiasa bertanya. Toh kalaupun aku bisa sudah kuterima ungkapan rasa sayang Rendi kepadaku. Namun aku tak bisa karna separo hatiku ada padamu. Meski perhatian Rendi sangat besar padaku,” ini sebuah suara lain yang entah.

“An!” tiba-tiba Laksmi teman sekamarku datang. “Kamu menangis?”

Segera ku usap air mata yang mengalir dipipi. Aku mencoba tersenyum.

“Kamu masih mengingat Dion, An. Sudahlah, kamu coba pelan-pelan melupakan Dion. Sudah hampir tiga tahun Dion tak memberimu kabar dan kamu hampir menyelesaikan kuliahmu. Buat apa selalu kamu tunggu. Cobalah buka hatimu untuk yang lain. Rendi misalnya. Dia begitu sangat pehatian padamu.”

Aku hanya bisa tersenyum menanggapi omongan Laksmi yang panjang lebar.

“Tidak mudah bagiku membuka hati, Laksmi” jawabku dihati.

“Oya, kapan kamu pulang ke Pekalongan,” tanyaku ke Laksmi mengalihkan pembicaraan tentang Dion.

“Ya secepatnya sih kalau beberes barang sudah semuanya,” jawab Laksmi seraya membuka almari pakaian.

Ia pulang ke pekalongan karena masa kuliahnya sudah selesai dan baru saja ia di wisuda sebagai Sarjana. Gelar S.Sos sudah bisa ditambahkan di belakang namanya.

“Kamu sendiri sudahkah mendapatkan tempat kost baru, An?”

Aku menggeleng. Waktu kurang seminggu lagi kost “wisma mawar” harus sudah kosong.

Deru motor di depan kost terdengar, lalu bunyi seperti kunci diputar untuk mematikan mesin. Rendi, pikirku. Betapa terkejutnya diriku melihat sosok yang beruluk salam. Dion!

Aku tak mampu berkata sepatah pun. Mataku tak lepas menatap lelaki dengan tubuh berisi serta berambut gondrong dan kumis tipis itu tersenyum.

“Hai, pa kabar Antiq ku!” sapanya dengan panggilan sayangnya kepadaku.

“Baik!” jawabku singkat, mencoba menata hatiku.

Rasanya dingin dalam jawabanku. Tak seperti orang bahagia karena lama tak jumpa kekasihnya untuk menumpahkan kerinduan.

Dengan tenang aku mempersilakan Dion duduk di bangku teras depan. Tak kutunjukkan gelayut manjaku padanya seperti dulu. Aku sendiri heran dengan sikapku. Namun Dion juga tak memperlihatkan keheranannya atas sikapku. Seolah tak ada perubahan.

Dion mendekatiku dan duduk disampingku. Digenggamnya jemariku dengan erat. Desiran di dada sempat menyapaku. Segera aku mampu menguasai diriku untuk lebih tenang.

“Maafkan aku. Lama aku tak pernah memberimu kabar tentangku,” ucap Dion pelan dengan suara baritonnya yang mantap.

Aku hanya diam dan tak bertanya kenapa. Biar dia senditi menceritakannya.

“Kamu mau memaafkanku,” aku mengangguk.

Hanya itu yang kulakukan. Sebab pikiranku lebih gelisah karena sampai sekarang belum mendapat tempat kost baru. Satu masalah bagiku, tak punya uang pembayar kost. Tak mungkin lagi minta kiriman.

“Antiq kudengar rumah kost ini akan direnovasi dan semua yang kost harus keluar,” kata Dion.

Dari mana Dion tahu. Padahal sudah lama dia tak kemari.

“Sudahlah, tak usah heran darimana aku tahu. Masalahnya, sudahkah kamu mendapat tempat kost baru?” tanyanya.

Lagi-lagi aku hanya bisa menggeleng.

“Sejak kpn kamu berada di kota ini, mas,” tanyaku.

Kuberanikan menatap wajah lelaki yang telah menempati hatiku. Seketika jantungku berdebar tatkala tatapan teduh itu menembus manik mataku. Aku segera berpaling.

“Tak usah mengalihkan pembicaraan Antiq. Jangan cemas, nanti aku bantu cari tempat kost.”

“Tak usah mas biar nanti ku cari sendiri,” kataku.

“Sudahlah! Aku paham kamu, Antiq. Kamu tak pernah mau menyusahkan orang lain. Padahal kamu sendiri kebingungan tapi tak pernah juga kamu tampakkan hal itu. Karena itulah aku kagum dan semakin sayang padamu.”

“Ah omong kosong!” tiba-tiba aku berucap dengan nada tinggi.

“Kemana saja beberapa tahun ini, mas? Semenjak kamu naik jabatan dan sejak itu pula tak ada kabar tenangmu. Kutanyakan pada sepupumu, rekan-rekanmu tapi tak ada yang memberi jawaban pasti keberadaanmu. Hatiku menggantung. Tak mungkin kutanyakan ke keluargamu karena belum sekalipun kau kenalkan pada keluargamu. Bodohnya aku kenapa tak kutanyakan padamu. Yang kutahu cuma sepupumu itu. Bahkan saat kutanya betapa menyedihkan hatiku jawabannya. Akhirnya kucoba melupakanmu. Namun ketika hampir berhasil kenapa kamu datang lagi. Kenapa mas?” tenggorokanku tercekat menahan air mata.

Aku tak ingin menangis dihadapannya. Aku harus kuat dan tak boleh rapuh di hadapan lelaki yang kucintai.

“Menangislah Antiq. Jangan kamu tahan. Biar lega hatimu. Keluarkan apa yang kamu rasakan. Meski aku tahu kamu wanita tangguh yang manpu menghadapi segala persolan yang menghampirimu. Tapi tak selamanya kamu mampu menanggungnya,” kata-kata Dion tenang.

Tak ada keheranan di wajahnya. Sikap inilah yang membuatku terpesona padanya. Sikap kebapakan yang selalu mengayomi dan membuat ayem. Aku tak mampu menolak saat Dion memelukku. Aku tak peduli ketika teman tetangga kost melihat kami berpelukan.

Hampir sebulan aku menempati kost baru. Dion yang mencarikan. Meskipun ruangannya cuma bisa diisi dipan kecil dan almari pakaian yang kecil. Penghuni kost hanya aku. Ibu kost memberi kunci pintu sendiri.

Aku berniat akan buka usaha untuk membiayai krbutuhan hidupku sendiri. Aku tak ingin membebani orang tua ku. Untung aku tinggal menyelesaikan skripsi. Jadi tak terlalu butuh biaya banyak.

Disaat luang aku hunting lokasi. Sudah kususun daftar barang yang diperlukan nanti. Modal yang kupakai sisa dari uang kost.

Beruntung, pembayaran kost tidak sebesar yang ku bayangkan untuk tiap bulan. Aku pengin jualan teh poci yang sedang ngetren.

Lagi-lagi Dion yang membantu mencarikan tempat. Akhirnya dapat juga meskipun tak strategis namun aku percaya rejeki takkan lari.

Aku tetap mengutamakan menyelesaikan skripsi. Usaha teh poci merupakan usaha sampingan saja.

Mulai spanduk sampai bahan dan peralatan jual kukerjakan berdua dengan Dion. Tak terasa sudah hampir empat bulan usaha teh poci dan roti bakar betjalan lancar. Dari usaha tersebut cukup buat mencukupi kebutuhan harian, bisa bayar kost bulanan, bisa untuk beli bahan jualan yang habis.

Seiring berjalannya waktu usahaku meningkat dan aku cari teman untuk membantu usaha teh pociku. Seiring itu pulalah aku kaget bagai mendegar suara petir. Dari sahabat Dion aku dapat info kalau Dion sudah bertunangan. Tubuhku mendadak dingin. Aku tak percaya selama info itu tidak ku dengar dari ucapan Dion sendiri. Ingin rasanya aku segera bertemu Dion. Dada ini serasa sesak.

Sengaja aku tak ikut jualan teh poci. Sementara kuserahkan pada orang yang membantuku. Ketika Dion datang langsung ia kuajak keluar mencari udara segar.

Seperti biasanya pembawaan Dion sangat tenang. Seolah tiada beban pikir yang dihadapinya. Ternyata benar apa yang dikatakan sahabatnya. Dion mengaku.

“Mengapa kamu tak berterusterang padaku? Kenapa aku harus tahu dari orang lain bukan dari kamu dulu. Betapa kecewaku padamu mas. Hatiku sakit,” aku terus nyerocos penuh kecewa dan kuguncang-guncang bahu Dion.

Air mataku. [][][]

Randri Lanthang, ibu rumah tangga, penyuka puisi, cerita, dan gemar memasak

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close