BudayaCerita

Suara Bumi

Ini kotaku, kota paling sibuk dan ramai yang pernah aku tempati. Kota yang tak ada kata lelah sedikitpun, siang malam ada saja orang bekerja. Tak ada waktu istirahat dan tak ada pula waktu bermain. Tempat tinggalku disebuah perumahan yang luas. Dulu aku tinggal di desa, karena pekerjaan ayahku, aku pindah ke kota.

Saat mau pindah aku sedih meninggalkan teman-temanku. Tapi disana aku mendapatkan teman baru, setiap harinya aku sekolah berangkat bersama mereka dan bermain juga bersama-sama. Tahun ini aku merasa senang karena libur sekolah aku akan tinggal dirumah kakek di desa dan yang membuatku lebih senang lagi karena aku dapat mengajak temanku.

Oh ya! Namaku Kifan cowok paling cool di sekolah, karena banyak cewek yang menyukaiku, ini temanku namanya Rai dan Ryan, mereka akan ikut aku ke desa.

Hari ini aku dan kawan-kawan berangkat ke desa diantar ayahku. Dalam perjalanan kami menikmati pemandangan yang indah dan saling bercakap-cakap tanpa henti

“Sepertinya aku akan senang jika tinggal disini.” Kata Rai saat melihat bukit

“Kamu benar pemandangan sangat indah dan udaranya juga segar.” Ucap Ryan

“Itu pasti.” Timpalku

Setelah sampai dirumah kakek, kami semua beristirahat, keesokan harinya aku mengajak temanku berjalan-jalan di desa. Akupun pergi ketempat bermainku dulu. Ternyata tempatnya sama sekali tidak berubah, tempatnya ditumbuhi banyak sekali bunga dengan berbagai jenis. Rai dan Ryan pun langsung bermain kejar-kejaran, tak lama kemudian temanku datang. Namanya Sena, dia temanku waktu kecil.

“Hai, kapan kamu sampai?” Tanya Sena sambil memegang pundakku

“Kemarin, mereka teman-temanku dari kota.” Jawab diriku sambil menunjuk tanganku ke arah mereka.

“Oh! Sepertinya mereka baru pertama kali ke desa.” Ucap Sena

Akupun memanjat pohon dan duduk dibatang pohon tersebut. Dengan dinginnya Sena berkata “Kau tak berubah sama sekali.”

Akupun diam dan tak berkata-kata kepadanya, dari atas pohon aku melihat Rai dan Ryan berlari ke arahku dan di arah yang berbeda aku melihat teman-temanku yang lain datang.

Setelah mereka semua datang, aku melompat dari pohon dan memperkenalkan Rai dan Ryan ke teman-temanku, mereka semua saling berkenalan dan kamipun berbincang-bincang sampai sore hari. Akupun berpikir bagaimana jika besok hari kita berkemah di bukit belakang desa.

“Aku setuju aja, yang lain gimana?” Kata Sena sambil bersandar di pohon.

“Oke” Sahut Rai

Kami pun akhirnya pulang karena hari sudah sore. Diperjalanan aku bertemu Mas Arip, dia adalah kakaknya Sena. Akupun menyapanya dan memberitahunya bahwa besok aku akan berkemah di bukit dan memberi tahu bahwa Sena juga ikut kemah. Aku pun mengajak Mas Arip ikut kemah juga bersama kami semua.

Saat tiba dirumah aku memberi tahu Kakek bahwa aku dan teman-yemanku besok akan kemah di bukit. Malam itu aku menyiapkan semua peralatan camping. Paginya, Aku, Rai dan Ryan pergi berkumpul ke tempat berkumpul. Setelah kami semua berkumpul, kami pun pergi ke tempat camping. Dalam perjalanan aku melihat beberapa pohon telah ditebangi, sesampainya aku dan teman-teman mendirikan tenda kamipun berbagi tugas. Aku, Danu, Ryan dan Gilang mendirikan tenda. Sena dan Yuna menyiapkan peralatan, sedangkan Rai, Candra dan Cella mencari kayu bakar, setelah semuanya selesai kami beristirahat dan makan siang dengan bekal yang kita bawa dari rumah.

Saat sore hari kami semua bermain dan berbincang-bincang. Tak terasa malam sudah tiba, kami pun tidur. Aku mendengar suara minta tolong, tapi aku tak mengetahui asal suara tersebut. Aku melihat sekitar dan tak ada seorang pun. Suara itu semakin lama semakin keras, dan aku pun merasa takut. Aku pun bangun dari tidurku dan berkata “ternyata hanya mimpi saja.” Aku dengan suara ayam berkoko dan kulihat sinar matahari dari arah timur, kami semua bangun dari lelapnya malam. Saat sarapan aku menceritakan semua mimpiku waktu itu kepada teman-temanku.

Kami berjalan-jalan di hutan, dalam perjalanan aku melihat pohon ditebangi, padahal waktu berangkat pohon disebelah sini belum tertebang. Aku merasa jika ada orang yang menebang pohon secara liar. Matahari sudah berada di puncak, kami kembali ketempat perkemahan. Kami semua memasak masakan seadanya, setelah aku selesai makan aku pergi ketempat tadi bersama Sena dan Rai.

“Lihatlah pohonnya ada yang menebang.” Kata diriku sambil menunjuk ke arah pohon ditebang tersebut

“Kalau dipikir tadi kita lewat sini pohonnya masih ada.” Ucap Sana

“Kau benar, aku pikir juga gitu” Kataku

“Kalau gitu berarti orang yang melakukannya di waktu malam hari.” Sahut Rai.

Kami kembali ke tempat camping, dan aku memberi tahu kepada semuanya jika kita nanti malam berjaga untuk memantau siapa yang telah menebang pohon secara liar tersebut. Akupun membuat sesi pantauan. Yang memantau pertama kali Candra, Danu dan Ryan. Saat mereka kembali, mereka tidak melihat apa-apa, tapi aku mendengan suara minta tolong sama sama seperti dalam mimpiku waktu itu. Karena ini bukan mimpi aku bertanya kepada Rai dan Gilang apakah kalian mendengar suara minta tolong.

“Tidak” Jawab Rai dan Gilang

Akupun merasa takut karena hanya aku yang mendengar, tiba-tiba aku kaget ada yang meemgang pundakku, aku pun meliha kebelakang dengan wajah terkejut. Ternyata Gilang yang memegang pundakku

“Riyan, lihat ada orang disana” Kata Gilang sambil menunjuk arah orang itu

“Sepertinyamereka yang menebang pohon disini.” Kataku

Ternyata dugaanku benar, orang-orang tersebut yang menebang pohon di hutan. Kami pun kembali ke tempat camping dan menceritakan semua kepada yang lain. Setelah itu kami pun semua tidur. Saat pagi hari kami semua membersihkan tempat kemah tadi dan kembali ke desa, untuk memberitahu penduduk desa.

Saat sampai di desa aku bertemu dengan Mas Arip dia sedang berbincang dengan Pak RT. Kami pun menghampirinya, aku lalu menceritakan semua yang kami lihat malam itu.

“Pak, Tadi malam kita lihat ada orang yang menebang pohon di hutan secara liar” Kataku

“Yang betul, kalau begitu ini bisa menjadi gawat.” Kata Pak RT

 “Betul pak, gak bohong itu.” Kata Gilang

“Kalu gitu, Mas Arip nanti minta tolong beritahu semua penduduk untuk berkumpul di balai desa.” Ucap Pak RT.

Setelah kami memberi tahu Pak RT, kami pulang ke rumah masing-masing, sorenya aku berkumpul dengan teman-temanku di tempat kemarin. Tak menunggu lama GiLANG, Candra dan yang lain datang, kami pun langsung pergi ke balai desa, Pak RT sedang memberi tahu tentang penebangan hutan secara liar, Pak RT kemudianmemberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengemukakan ide bagaimana menangkap pelakunya. Bukannya menyelesaikan masalah warga desa malah ribut sendiri dengan pendapat yang diuatarakan. Pak RT mencoba untuk menenangkan, saat semua sudah tenang aku memberikan usulan.

“Pak, bagaimana jika kita menjebak mereka.” Ucapku dengan keras

“Bagaimana caranya?” Kata Pak RT

“Gini, mereka kan melakukan aksinya pada malam hari, maka kita kepung mereka dari empat sisi.” Kata Gilang

“Setelah itu kita tangkap mereka semua.” Kata Candra

“Sebaiknya kita juga menelepon polisi.” Kataku

Pak RT dan yang lain setuju dengan ideku. Pada malam hari kami mempersiapkan semuanya, warga desa pun telah dibagi posisi mereka masing-masing. Aku dan kawan-kawan juga ikut, kami berada di sebelah barat hutan, tepat dimana disaat aku melihat pelakunya dengan ditemani Mas Arip. Sambil menunggu, aku menceritakan kepada Mas Arip, saat camping aku bermimpi ada suara minta tolong begitu juga saat kami memantau pelakunya, Mas Arip juga berpikir seperti teman-temanku yang lain, jika itu suara orang.

Tak lama kemudian aku melihat orang-orang itu lagi dan memberi tahu yang lain. Kami pun bersiap-siap untuk menangkap mereka, kami menangkap mereka semua saat mereka sedang melakukan aksinya. Kami pun langsung lari dan menangkap semuanya, setelah itu kami menelepon polisi agar mereka di proses secara hukum. Kami pun pulang ke rumah dan beristirahat.

Keesokan harinya aku bersama Rai dan Ryan pergi kehutan untuk menanam pohon. Dalam perjalanan aku bertemu dengan teman-teman.

“Itu kalian mau kemana?” Tanya Gilang

“Kami mau ke hutan.” Ucap Rai

“Ngapain kalian ke hutan?” Kata Candra

“Kami ingin menanam pohon, agar pohonnya menjadi lebat lagi.” Kataku

“Jika kalian ingin iku, ayo.” Kata Rai

Mereka semua ikut bersama kami mennam pohon di hutan. Samapi disana kami langsung menanamnya, aku mengambil air di subngai, saat itu aku mendengar suara orang berterimakasih, aku melhat sekeliling tak ada siapapun. Aku pun mendengar auara itu lagi “Terimakasih telah membantuku melestarikan alam ini” itulah yang aku dengar. Aku langsung pergi ke teman-temanku, setelah selesai kami pun langsung pulang.

Pada malam hari aku bermimpi, suara itu twerdengar lagi di telingaku. Dengan sekejap aku langsung bangun, saat aku melihat jam ternyata sudah pagi. Rai datang dan mengajakku pergi ke tempat bermain.

“Ayo kita pergi” Ucap Rai

Akupun langsung pergi, ternyata disana sudah ada teman-temanku. Aku melihat teman-teman bermain sambil bersandar di pohon. Tak lama Sena memberitahuku.

“Terimakasih telah melestarikan alam ini.” Kata Sena sambil tersenyum

“Tumben kamu tersenyum dan berterimakasih” Ucapku

“Gak boleh, dunia pun akan berterimakasih jika kita menjaganya, masak manusia tidak berterimakasih.” Ucap Sena

“Dah ya, aku mau bermain” Kata Sena

Dengan sekejap aku langsung mengingat kata-kata itu, dalam benakku aku berfikir itu suara bumi yang meminta tolong dan berterima kasih. Aku sadar, jika kita melestarikan dan menjaga alam ini. Bumi akan membalasnya dengan sesuatu yang tidak terpikir oleh kita. Seperti kalian berkata “petiklah buah yang segar, jangan petik buah yang busuk.” Jika kita berbuat baik balasannya baik juga, tapi jika kita berbuat buruk, balasannya juga buruk. [][][]

cerpen oleh silvia ayu artika, Kelas XI ips 5 Madrasah Aliyah Negeri 1 Sragen

Ngaten
1
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close