BudayaFakta
Trending

Saatnya Bertanya Pada Penyanyi Dangdut yang Tak Bergoyang

Saya kangen dengan kampung. Pada saat-saat ini kampung saya sedang menggelar pilihan lurah. Selalu ada banyak hiburan dan duit bertebaran.

Saya sendiri belum pernah ikut memilih dalam sebuah Pilkades. Bahkan sampai akhirnya KTP saya dicabut dan nggak jadi warga desa Gulon, Kecamatan Salam Kabupaten Magelang, saya belum pernah merasakan sensasi memilih kepala desa. Sikak tenan.

Dalam pilkades, ada juga musim kampanye. Musim ini ditandai dengan bertebarannya fitnah, berita bohong, dan perundungan. Ya, karena memang baru segitu tingkat kegembiraan berdemokrasi. Alih-alih mengecek setiap berita yang diterima, justru semua informasi yang diterima akan ditambah atau dikurangi sesuai kepentingan.

Ada ide untuk mengetahui rekam jejak, moralitas, dan integritas para kandidat. Ide paling mudah adalah berbaik-baik dengan kelompok dan kru musik dangdut. Kalau sekarang ya yang nyrempet-nyrempet megal megol erotik.

Bisa dimulai dari mengenal manajemennya, grupnya, awak grup, hingga penyanyinya. Sebab merekalah yang tahu persis kualitas kandidat yang berkompetisi dalam pemilu.

Sayang sekali, masyarakat yang demen melototi timeline media sosial, lebih suka menebar ikon jempol tanda suka dan komentar nyinyir. Masyarakat lupa jika nyisir, nyindir dan nyinyir itu sama-sama butuh cermin.

Mengapa penyanyi dangdut layak menjadi tempat bertanya?

Jelas sekali. Pertama, saat memasuki musim kampanye, mereka yang akan dikontrak habis-habisan oleh para calon. Tak peduli persyaratan yang diajukan sangat berat, atau tarif yang mendadak naik, para politisi tetap akan mem-booking. Tujuannya jelas, sebagai penarik massa dan membangkitkan histeria. Harapannya, akan bermuara pada dukungan dan suara.

Seorang penyanyi Dangdut kelas kampung yang biasa main bersama organ tunggal yang biasanya mendapat bayaran seratus ribu tiap tampil bisa tiba-tiba menjadi berlipat. Angka akan terus bergerak naik dengan cepat begitu saat musim kampanye mendekati akhir.

“Wah tanggal itu saya ada job mas. Bolehlah saya cancel, tapi bayar di depan lunas!” kata sang penyanyi.

Tentu karena ingin kampanyenya ramai dan meriah, berapapun harga yang dipasang, calon pasti akan setuju. Biasanya langsung memberi uang muka sebagai ikatan. Bukan hanya calon, tapi tim sukses calon Presiden juga akan melakukan hal yang sama. Tentu ini sebagai investasi, jika jagoannya menang, ia bisa berharap mendapat balas jasa berupa apapun yang menguntungkan.

Jika sudah diberi uang muka, akan terlihat jam terbang atau pengalaman si penyanyi dangdut. Yang pengalaman manggung di hajatan politik sudah tinggi, biasanya akan menolak uang muka itu.

“Kalau sudah seperti ini, biasanya bayar cash di depan,” kata si penyanyi dangdut kelas kampung itu.

Alasan yang disampaikan sangat masuk akal. Berdasar pengalaman, yang dikontrak panjang ikut ngalor-ngidul kampanye itu, janjinya akan dibayar usai proses kampanye selesai.

Bagi sang penyanyi dangdut, hanya ada dua kemungkinan. Terpilih atau tidak. Andai terpilih, masih ada harapan untuk menagih, nah jika tidak? Repot kan?

Itu baru untuk menilai apakah seorang calon banyak janji atau nggak. Suka bohong atau nggak. Suka korupsi atau nggak. Jangan-jangan hanya janji kampanye.

“Makanya kalau bikin janji itu seperti bikin kopi, jangan terlalu manis,” kata si penyanyi dangdut.

Di daerah Cirebon dan daerah pantura Jawa Barat, banyak penyanyi dangdut yang akhirnya tak dibayar saat calon yang mengontraknya kalah.

“Politik itu soal kepercayaan. Dan untuk urusan seperti ini, meyakinkan saya untuk jangan percaya politisi,” lanjutnya.

Sekarang untuk menguji akhlak. Biasanya para penyanyi dangdut diminta tampil setotal mungkin. Goyangan khas nan erotis menjadi salah satu andalan. Bahkan kadang meminta audience untuk ikut nimbrung berjoged bersama.

Momentum joged bersama ini biasanya ditandai dengan naiknya sang calon ke atas panggung. Ikut menyanyi dengan kualitas suara yang entah. Yang utama adalah bisa ikut berjoged.

“Kalau mau joged ya joged saja, kalau mau lebih ya nanti kalau sudah selesai. Kita rembugan,” kata si penyanyi mencoba memancing.

Lontaran itu diucapkan karena sang calon sudah mulai meraba-raba tubuhnya. Kadang dengan gaya tak sengaja, menyenggol bagian tubuh tertentu. Nah pengalaman-pengalaman ini tentu tak dimiliki sembarang orang. Hanya penyanyi dangdut yang pernah dikontrak yang merasakan.

Dengan berbaik-baik pada penyanyi dangdut, awak musik, manajemen, dan kru-nya tentu calon pemilih bisa mempertimbangkan, kepada siapa suaranya akan diberikan.

“Kalau calon presiden nggak mungkinlah. Tapi kita bisa menilai dari perilaku tim sukses atau tim kampanyenya. Mereka yang di ring satu agak lebih jaga kesopanan. Jadi kalaupun busuk, tentu nggak bisa secara vulgar dilihat. Kalau calonnya malah lebih steril lagi,” kata mbak penyanyi dangdut.

Kata mas Eko Tunas, masyarakat Indonesia, khususnya Jawa bisa dipetakan atau dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar. Pertama yang berasal dari daerah gunung atau pegunungan dengan medan sulit. Masyarakat ini akan senang bergotong royong untuk memudahkan penyelesaian masalah yang dihadapi.

Kedua adalah masyarakat pesisiran. Kelompok ini kesehariannya mempertaruhkan nyawa untuk mencari nafkah di tengah laut. Sehingga ketika berada di darat ia menjadi sangat pemberani.

“Percuma saya bertaruh nyawa di laut tiap hari, kalau ada yang menghina kemudian diam. Tentu akan saya lawan mati-matian,” kira-kira begini pembelaannya. Mudah dimengerti jika masyarakat pesisir asli akan gampang tersinggung jika merasa disepelekan.

Nah, yang ketiga adalah masyarakat tengahan. Masyarakat ini hidupnya di daerah tanah yang subur, infrastruktur mudah, hidupnya relatif paling mudah dibanding dua kelompok lain. Masyarakat ini akan sangat gemar berpesta.

Bentuk pesta bisa bermacam-macam. Paling banyak adalah syukuran, slametan. Nanggap dangdut adalah salah satunya. Nanggap wayang adalah bentuk lain.

Itu sebabnya para politisi juga calon kepala desa saat berkampanye sebaiknya sangat berhati-hati dan membekali diri dengan pengetahuan dasar seperti ini. Bukan hanya asal janji. Terutama jika calonnya adalah petahana.

“Kalau masih sayang, jangan jadikan mantan. Kalau sudah mantan, ya jangan disayang-sayang.”

Itu pesan dari penyanyi dangdut untuk para pemilik suara. [][][]

edhie prayitno ige ~ bapak satu anak, penyuka anggrek gratisan

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Check Also

Close
Back to top button
Close