Budaya

Membaca Perspektif Perempuan dalam ‘Wanodya’

Seluruh peristiwa telah terbuka. Seperti tubuh telanjang tanpa rahasia. Maka, setiap orang boleh berkata apa saja. Setiap orang boleh mengumbar dan membuka peristiwa apa saja. Memprotes dan tak memprotes apa saja.

Antologi geguritan 13 penggurit perempuan, bisa jadi adalah sebuah pengakuan sekaligus perlawanan atas situasi ini. Simak saja geguritan yang ditulis Alfiah Ariswati Sofian. Dengan polos, lugu dan apa adanya ia mencoba menertawakan usianya yang menua.

Tanpa bahasa yang diindah-indahkan agar mencapai puncak estetika, Alfiah justru sampai kepada puncak keindahannya.

saiki,
bara-bara mider wengi tanpa jaket ngubengi kutha
mangkat nyambut gawe brukutan
saka sikil nganti gundhul
tetep wae awake krasa
gemreges masuk angin

jian…,
tibakne aku ki
wis tuwa tenan

Itu adalah dua bait terakhir geguritan Alfiah.Baginya, usia menua yang ditandai dengan menurunnya kemampuan fisik bukan hantu. Bayangkan saja, usia tua saat ini menjadi teror para perempuan masa kini. Teror yang memang tujuannya membuat ketakutan. Takut tak (kelihatan) cantik, takut gendut, takut tak seksi, dan sederet ketakutan lain.

Tapi dengan gurit itu, Alfiah justru memprotes keadaan yang diyakini dengan sangat jenaka. Alfiah tak mau terbebani anggapan sementara orang sering membebani karya sastra dengan berbagai fungsi. Fungsi dulce et utile (menyenangkan dan berguna), fungsi docere (memberi ajaran), fungsi delectare (memberi kenikmatan) dan fungsi movere (menggerakkan pembaca ke arah kegiatan yang bertanggung jawab).

Saya ingat kawan saya. Ia istri seorang wakil kepala daerah di Jawa Tengah. Demi membaca ini, saya mencoba membuka komunikasi. Sekadar ingin tahu apa saja kesibukannya.

“Saya itu malah nyaris tak punya waktu me time. Pagi hingga hendak tidur, semua saya curahkan ke masyarakat. Ini resiko menjaga agar nama baik suami tetap baik,” katanya.

Atau kawan lain yang aktivis partai. Pengakuannya nyaris sama. Selalu sibuk dengan kegiatan rapat ini, rapat itu, mendengarkan pidato ini, pidato itu, bhakti sosial, program pemberdayaan masyarakat dan lain-lain.

“Dengan seperti itu, bagaimana saya bisa merenung dan membuat geguritan?” keluhnya.

Nah, dari ucapan ini saya sadar sepenuhnya mengapa perempuan yang menulis geguritan di antologi ‘Wanodya’ ini malah didominasi guru. Ada 10 dari 13 penulis geguritan ini yang berprofesi sebagai guru, formal maupun informal.

Lalu jika para guru ini mampu menulis geguritan, sedangkan bu bupati, bu wali kota, bu gubernur, bu DPRD dan seterusnya tak ada satupun yang ikut menulis, apakah itu indikasi bahwa guru memiliki banyak waktu untuk merenung?

Jika spontan dijawab ya, sungguh itu sebuah kebodohan hakiki yang menjawab ini. Apalagi jika yang menjawab adalah perempuan sibuk sekelas teman saya tadi.

Penting menyimak geguritan yang ditulis buruh migran asal Blitar yang kini di Taiwan, Trinilya Kinasih. Ia memotret perilaku sibuk tadi sebagai nggege mangsa alias buru-buru.

kepilut gebyare dhampar kencana
ngubalake grengseng ngrebut panguwasa
panguwasa iku amung saderma lantaran
nggelar jejege adil
apa kudu dirayah nganggo srana
:rumpil

Bait terakhir geguritan berjudul Dhampar Kencana ini seakan ngampleng yang sibuk mengurusi masyarakat itu. Tak apa memang sebaiknya seperti itu.

Serupa dengan guritan Trinilya, Sulis Bambang juga sukses memotret perilaku pengecut. Perilaku yang digambarkan suka mengamuk, tapi jika tak berada di hadapan pihak yang mengecewakan. Menariknya, geguritan itupun tak ditulis dengan bahasa sastra yang istanasentris. Justru ditulis dengan gaya Semarangan, komplit dengan idiom khas sehari-hari dunia jalanan kota Semarang.

oalah….jebule jirih kowe ndhes
kendelmu ilang digetak sepisan
mlipir mulih rak pamitan
tekan omah lha kok ngamuk
mbantingi gelas

Jelas dan tegas Sulis Bambang menyebut jirih dan mendeskripsikan dengan mental pengecut. Tak berani berhadapan, namun rela mengorbankan keluarganya untuk pelampiasan kejengkelan dan kemarahan.

Sebagai penutup, saya ingin mengambil bait terakhir geguritan yang di tulis Yanti S Sastro Prayitno. Jagoan teknik kimia dari Undip ini dalam geguritan yang berjudul Suwung menegaskan sikap terakhir seorang perempuan. Bagaimanapun seorang perempuan karena menjadi korban patriarkhi, ketika sudah dikecewakan akan meminjam eksistensi Gusti Allah.

pancen lembah manah
dudu perkara kang kaprah
ananging margining jiwa
anggayuh sihing Kang Maha Kuwasa

Tentu di bait-bait sebelumnya Yanti sudah bercerita tentang fakta yang biasa ia temui dalam keseharian. Tentang sosok yang tak pernah mau rendah hati meski sudah sering terantuk batu, jatuh terjerembab. Berbagai nasihat sudah mengalir. Tetap saja perilaku tak berubah.

Lalu, kenapa saya mengambil contoh-contoh geguritan dalam antologi geguritan ‘Wanodya’ selalu hanya bait terakhir? Jelas karena di semua geguritan ini bait terakhir menjadi inti pesan. Bait-bait sebelumnya hanya deskripsi menjadi pengantar saja.

Jika digambarkan dengan kurva, maka kurva itu akan linear menuju ke atas. Memuncak di akhir.

Benarkah demikian?

Lha ya embuh, wong saya juga nulis ngawur saja, tanpa teori sastra, tanpa ilmu apapun. Saya hanya ingin membuktikan pembuka tulisan ini, bahwa siapapun boleh mengatakan apa saja, boleh mengumbar peristiwa apa saja. Tentu dengan sudut pandang paling subyektif.

“Oalah telo tenan sampeyan,” teriak aku dalam saya yang berbeda. [][][]

edhie prayitno ige ~ bapak satu anak, penyuka anggrek gratisan

Ngaten
0
Muach
0
Telo
0
Kakekane
0
Tenane
0
Hajinguk
0
Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close